~Kalau kau mencintai seseorang yang belum halal untukmu, cukup serahkan hatimu kepadaNya dan biarlah Dia menyelesaikan kisah cintamu dengan tanganNYA. Rindumu harus kamu bungkam dengan doamu, cintamu harus kamu tahan dengan diammu.~
Dilia baru menyelesaikan shalat ashar saat Fajar masuk kedalam kamarnya, tanpa dipersilahkan Fajar duduk di pinggiran ranjangnya.
“Sini Lia, duduk disamping kakak!” Fajar menepuk bagian kosong di sampingnya.
Dilia menurut, masih dengan menggunakan mukena dia duduk di samping Fajar.
“Ada apa kak?” tanya Dilia saat dia telah duduk disamping Fajar.
“Adhim....” Fajar tidak melanjutkan ucapannya, dia menatap adiknya dengan tatapan intens.
“Ada apa dengan Kak Adhim?” tanya Dilia penasaran.
“Adhim berniat untuk mengkhitbah kamu”.
Dilia menatap kakaknya dengan pandangan tidak percaya, “jangan bercanda kak,” dia sudah hampir berdiri dari pinggiran tempat tidur, namun urung saat fajar meraih tangannya.
“kakak tidak bercanda Lia. Adhim benar-benar berniat untuk mengkhitbahmu. InsyaAllah malam ini dia akan datang kerumah untuk menemui papa dan mama, kakak memberitahumu agar kamu bisa mempersiapkan diri”
Dilia hanya diam, tidak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Andai saja yang hendak mengkhitbahnya bukanlah sahabat baik kakaknya, dia pasti akan mudah untuk mengatakan tidak, sama hal dengan apa yang selalu dia katakan kepada lelaki yang hendak mengkhitbahnya.
“kakak sudah mengatakan hal ini juga pada mama dan papa. Mereka menyimpan harapan yang besar pada Adhim. Dia lelaki yang baik agamanya dan InsyaAllah dia akan menjadi imam yang baik untuk kamu bila kalian berdua berjodoh,” Fajar berucap sangat lembut.
“kakak harap kamu berhenti menunggu seseorang yang pada kenyataannya tidak pernah menyuruhmu untuk menunggu.”
Dilia menarik nafas dalam-dalam. Tidak tahu kenapa rasa sesak menyergap hatinya.
~Ya Allah... aku tidak tahu apakah pesonanya yang mengikat atau mungkin akalku yang tidak lagi di tempat hingga aku rela untuk terus menunggunya tanpa sebuah kepastian. Jangan biarkan aku melampaui batas sehingga aku melupakan cintaku pada-Mu dan Rasul-Mu.~
(8 tahun yang lalu....)
Dilia memperhatikan setiap tetes air hujan. Hujan turun semakin deras hingga membuat dia tidak bisa kembali ke kelas. Kalau nekat menerobos hujan bisa-bisa seragamnya basah. Tapi bila beberapa menit hujan tidak kunjung reda mau tidak mau dia harus menerobos hujan, sebab beberapa menit lagi pelajaran sejarah akan dimulai.
Dilia sudah hendak menerobos hujan saat lima menit lagi menjelang bel tanda pelajaran ketiga dimulai. Namun urung saat melihat Alka yang berjalan ke arahnya menggunakan payung bermotif bunga-bunga. Sepertinya itu payung milik Lely (teman sebangku Dilia).
Alka benar-benar terlihat lucu dengan payung bunga-bunga itu.
“kebiasaan. Udah tau musim hujan. Kenapa nggak bawa payung?” gerutu Alka seraya menyerahkan payung lipat yang ada di tangan kirinya kepada Dilia.
“Aku kirain nggak akan hujan,” Dilia menggambil payng yang Alka sodorkan, lantas mencoba menggembangkan payung itu. “Macet, Al. Payungnya nggak bisa dibuka.”
Alka naik ke teras masjid. Menaruh payung ke sampingnya, “Coba sini,” Alka berusaha membuka payung itu, namun hasilnya sia-sia. Payung itu benar-benar macet.
"Gile gue dikerjain. Pasti si Wawan sengaja ngasih gue pinjem payung rusak. Payung yang suka dipake dia buat modusin cewek biar bisa sepayung berdua." Gerutu Alka dalam hati. Merutuki kebodohannya yang terlalu mudah percaya sama Wawan.
Bel mulai berbunyai. Menandakan pelajaran selanjutnya akan segera dimulai.
“Al udah bel. Mana pelajaran Bu Titik. Bisa kenak amuk kita kalau telat masuk kelas,” wajah Dilia sudah terlihat panik. Apalagi hujan turun semakin deras. Makinlah dia panik.
“Yaudah kamu pake aja payung ini.”
“Terus nanti kamu pake payung yang mana. Yang itu kan rusak?” Dilia menunjuk payung yang ada di tangan Alka.
“Udah nggak usah mikirin aku. Sana cepet ke kelas. Kalau kita berdua telat bisa-bisa nimbulin gosip baru. Kamu nggak mau kan kita digosipin yang aneh-aneh.”
Dilia akhirnya menuruti perintah Alka. Dia memakai payung melewati setiap tetesan air hujan untuk menuju gedung sekolah.
Alka sendiri sudah siap berlari menerobos hujan saat yakin kalau Dilia sudah sampai di kelas,
“Bodo ah, demi Lia gue rela hujan-hujanan kaya orang bego,” gumam Alka sebelum berlari dari masjid menuju gedung sekolah.
Beberapa anak yang masih belum masuk ke kelas memperhatikan apa yang terjadi di teras masjid. Apa yang dilakukan Alka pada Dilia sangat sweet.
Mengantarkan payung untuk Dilia, namun sayang payung yang dia bawa ternyata rusak hingga membuat Alka menyerahkan payung yang dia pakai pada Dilia dan membiarkan dirinya kehujanan. Itu lebih terlihat romantis dibandingkan dengan sepayung berdua.
Begitulah cara Alka mencintai Dilia, tak perlu banyak kata tapi dia selalu ada.
~Ingatlah, bagian terbaik dari cinta adalah perasaan itu sendiri. Bahagia, sedih, kesal, cemburu, kecewa dan marah akan menjadi perpaduan yang indah dan menarik di saat rasa itu dapat terjaga kesuciannya.~
~Meski tidak ada yang tahu tapi Allah pasti tahu karena tidak ada yang dapat disembunyikan dari Allah meskipun hanya bisikkan yang terbesit di dalam hati.~
Dilia mulai menyadari bahwa dalam hatinya telah tumbuh perasaan yang sama sekali belum pernah dia rasakan. Cinta? Iya, itulah yang Dilia rasakan terhadap Alka. Rasa yang seharusnya tak pantas ada. Dan tak pantas dia miliki di usianya yang baru menginjak 17 tahun.
Saat itu Dilia berencana untuk menjaga jarak dari Alka.
“Gimana, Li. Besok maukan bawain aku makanan lagi?”
“Al jangan ganggu aku. Apa kamu nggak liat aku lagi belajar?”
Alka diam sejenak seraya memperhatikan apa yang tengah Dilia tulis, “Tumben kamu nggak minta bantuanku buat belajar matematika? Kamu bener-bener lagi ngehindarin aku?”
“Nggak usah peduliin aku.” Ya, itulah kalimat yang dua minggu lalu Dilia katakan pada Alka, dan
sungguh demi apapun dia tidak menyangka kalau kalimat sederhana itu dapat membuat hati terasa sakit.
Semenjak hari itu Alka tak lagi seperti biasa, dia lebih terlihat dingin. Dia pun berusaha menghargai apa yang menjadi keinginan Dilia. Tapi apa yang terjadi? Dilia merasa bersalah telah melukai hati yang tak sepantasnya dilukai.
Kini Alka berdiri di depan ring basket, memantulkan bola berkali-kali ke lantai dan memasukannya ke ring berkali-kali pula. Tanpa mempedulikan air hujan yang mulai membasahi tubuhnya, Dilia berjalan ke arah Alka. Dia berdiri tepat didepan Alka. Kepalanya menunduk dalam,
“Maafin aku, Al. Maafin aku kalau aku pernah bikin kamu sakit hati.”
“Aku cinta kamu, Dilia.” sahut Alka.
Deg... tubuh Dilia otomatis mundur beberapa langkah. Matanya mengerjap bingung. Apa yang barusan dia dengar?
Alka mencintainya?
Dia mengatakan kata maaf, namun kenapa Alka malah membalasnya dengan kata cinta.
Sabtu, 21 Agustus 2010
"Assalamu’alaikum.
Apa kabar? Semoga baik-baik saja.
Aku ingat, kamu pernah bilang bahwa hujan adalah salah satu hal yang paling kamu suka, dan hari ini aku menulisnya bersama hujan. Deras sekali rintiknya.
Apa kau ingin tahu apa yang kupinta pada-Nya di kala hujan turun?
Aku meminta pada-Nya agar melabuhkan cintaku pada seseorang yang melabuhkan cinta pada-Nya, agar bertambahlah rasa cintaku kepada-Nya.
Dan jika aku jatuh cinta, aku berharap dia yang kucintai dapat menjaga cintaku, agar cinta yang kumiliki untuk dia yang kucintai tidak melebihi cintaku pada-Nya.
Aku tidak tahu akan seperti apa akhir kisah cerita kita.
Hanya sampai disini,
Atau akan ada kisah lain yang akan kita lewati bersama,
Selamat tinggal Dilia,
Sahabat terbaiku yang telah mengajarkanku apa artinya mencintai Dzat yang telah menciptakan aku dan kamu."
Alka A. Andrean
Setetes air mata membasahi surat dari Alka yang masih ada di tangan Dilia. Sebuah surat perpisahan dari seseorang yang dia cintai dalam diam.
Dilia tak pernah tau, apa yang membuat keluarga Alka memutuskan untuk pindah ke Jerman, semua itu terjadi begitu saja dan secara tiba-tiba.
~Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah akan timpahkan kepadanya pedihnya sebuah pengharapan. Supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkataan tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya~ Imam Syafi’i
Kepergian Alka bukan tanpa alasan, mamanya sakit parah dan keinginan mamanya disaat itu adalah menghabiskan sisa hidupnya bersama keluarga besarnya di Jerman. Mau tak mau keluarga besar Andrean pun memutuskan untuk menetap di sana. Setahun setelahnya kabar duka menyelimuti keluarga Alka, mama Alka meninggal dunia. Penyebab kematian Ny. Andrean dikarenakan terjadinya pelebaran abnormal pembuluh darah di otak.
Tidak selesai disitu, tahun-tahun yang menyakitkan mulai dirasakan oleh Alka. Empat tahun setelahnya papanya mengalami serangan jantung karena mendapatkan kabar kalau Kevin (kakak Alka) ditemukan tidak bernyawa di apartemen milik temannya karena overdosis obat-obatan terlarang. Saat itu benar-benar menjadi masa yang sulit bagi Alka, hingga tidak ada waktu baginya untuk memikirkan hal lain kecuali pendidikan dan kehidupan keluarganya yang jauh sekali dari kata baik.
Belum reda duka karena kepergian mama dan Kevin, satu tahun kemudian pun papanya tutup usia. Kini yang bertahan dan Allah berikan kesempatan untuk tetap bernafas hanyalah dia dan Novita (kakak perempuan Alka).
Sebisa mungkin dia dan Novita saling memberikan support. Meyakinkan pada diri masing-masing kalau duka yang menimpa keluarganya akan segera sirna.
Hari demi hari berlalu, menjadi minggu, minggu berkumpul menjadi bulan dan bulan bersatu menjadi tahun. Alka dan Novita mulai dapat menjalani hari-hari seperti sebagaimana mestinya.
Alka mulai dapat fokus pada pendidikan dan pekerjaan paruh waktunya di kantor milik pamannya. dia bertekad untuk segera kembali ke tanah air setelah pendidikannya selesai, dia akan langsung melamar Dilia.
Namun rencana tetaplah rencana, Allah yang memiliki wewenang sepenuhnya aras rencana yang sudah dia rangkai.
Sehari setelah kepulangannye ke tanah air, Alka mendengar kabar bahwa Dilia telah dikhitbah oleh laki-laki lain.
"Selama ini aku merasa jika belum saatnya menjadikanmu sebagai pendamping. Aku berfikir, mungkin Allah masih meminta diriku untuk memperbaiki diri agar pantas bersanding di sampingmu. Tapi ternyata Allah menginginkan takdir lain. Maafkan aku yang terlambat." penyesalan Alka dalam hati.
“Lia, apa kamu sudah shalat istikharah?” tanya mama.
“udah ma, dua hari yang lalu. Tapi Lia masih bingung. Apakah Lia harus menerima lamaran Kak Adhim dan berhenti menunggu Alka atau sebaliknya. Lia tidak tau ma.”
Mama Dilia membelai pucuk kepala Dilia, “mama tidak bisa memberi jawaban apapun. Yang bisa menjawab pertanyaanmu adalah hatimu sendiri. Anak mama sudah dewasa dan mama percaya kamu pasti mampu menentukan pilihan yang terbaik untuk diri Lia sendiri. Satu pesan mama, selalu libatkan Allah dalam pilihanmu.”
“Bolehkah Dilia menyerahkan pilihan ini pada mama dan papa?”
“maksud kamu?”
“Bila mama dan papa menerima lamaran Kak Adhim. InsyaaAllah Dilia pun akan menerima lamaran Kak Adhim. Lia tidak bisa menentukannya sendiri...”
“Benarkah? Kamu yakin mau menyerahkan keputusan ini pada mama dan papa?”
Dilia mengangguk, “Dilia yakin pilihan mama dan papa untuk Dilia tidak akan keliru.”
Ya Allah... dia telah datang.
Dia yang selalu kusebut namanya secara terang-terangan di hadapan-Mu telah datang untuk menyapaku, namun kenapa dia datang disaat aku telah terikat. Kenapa?
Aku mohon bila memang aku dan dia tak berjodoh, lindungilah hatiku dan hatinya dari rasa sakit. Dan semoga Kau memberikan keikhlasan pada kami untuk menerima semuanya.
“Kapan nak Alka kembali dari Berlin?” pertanyaan pembukaan dari papa Dilia.
“Kemarin sore Om,” Alka tidak menyengka kalau dia akan merasa segugup ini, padahal ini bukan pertemuan pertamanya dengan papanya Dilia.
“Kalau boleh tahu di Berlin nak Alka kuliah dimana terus ngambil jurusan apa?”
“Freie Unuiversitaet Berlin, jurusan Manajemen Bisnis.”
“Apa nak Alka akan kembali menetap disini?”
Alka mengangguk.
Di dapur, tepatnya di kursi meja makan Dilia duduk manis. Dari tempatnya duduk dia bisa mendengar apa saja yang dibicarakan oleh papa, mama, Fajar dan Alka.
Aneh? Kenapa papanya mengajukan banyak pertanyaan pada Alka? Alka kan datang hanya untuk silaturahmi. Tidak mungkin kalau Alka tidak tahu hukum yang menyatakan bahwa seorang lelaki muslim dilarang melamar muslimah yang sudah dilamar oleh lelaki lain.
Atau jangan-jangan papa dan mamanya sudah membatalkan lamarannya dengan Adhim?
Pertanyaan terus saja merasuk ke dalam kepala Dilia, hingga dia tidak sadar kalau namanya dipanggil oleh mamanya.
Dilia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan sebelum melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.
Hening, tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun dan hal itu membuat Dilia kebingungan.
Hingga akhirnya suara Alka memecahkan keheningan yang sudah tercipta.
“Dilia maukah kamu menjadi istriku?”
Dilia tidak mampu menyembunyikan kererkejutannya. Matanya mengerjap bingung.
Alka melamarnya?
Alka melamarnya?
Kenapa Alka melamarnya di atas lamaran Adhim? Bukankah itu tidak boleh?
~Jadilah lelaki yang tidak menyatakan banyak janji, tidak pula memberi harapan yang tak pasti, dan jadilah lelaki sejati yang hanya akan mengatakan kata cinta kepada satu wanita~
Dilia diam, tidak kunjung memberikan jawaban. Membuat Fajar dan kedua orangtuanya menatap bingung ke arahnya,sedangkan Alka sendiri berusaha untu menetralkan detak jantungnya.
“Bagaimana Dilia? Apa kamu mau menjadi istriku?” Alka akhirnya memiliki keberanian untuk mengulangi pertanyaannya. Sungguh demi apapun ini sangat menegangkan.
“aku bingung,” Dilia berucap gemetar.
Mama Dilia membelai bahu putrinya, “Apa yang membuatmu bingung?” tanyanya lembut.
“Aku bingung kenapa mama dan papa membiarkan Alka melamarku disaat mama dan papa sudah menerima lamaran Kak Adhim?”
Baik kedua orangtuanya, Fajar dan Alka langsung menatap Dilia terkejut.
“Siapa yang mengatakan kalau papa dan mama menerima lamaran Adhim?” tanya papanya dengan raut wajah kebingungan.
“Kak Fajar,” jawabnya.
“Aku?” Fajar langsung menunjuk dirinya sendiri, matanya membulat sempurna.
“dua hari yang lalu. Kakak bilang mama dan papa udah nerima lamaran kak Adhim.”
“Ya Allah... maaf ya dek, kakak nggak ngasih tau kamu cerita yang utuh. Jadi awalnya papa dan mama emang mau nerima lamaran Adhim, tapi tidak jadi.”
Dilia langsung menoleh pada mama dan papanya bergantian, “kenapa mama sama papa nolak lamaran Kak Adhim?”
“Karena papa dan mama tahu InsyaAllah Alka lah yang akan membuat putri papa dan mama ini bahagia dan lebih dekat pada Allah.” Ucap papanya sambil membelai pucuk kepala Dilia.
Dilia menatap papa dan mamanya berkaca-kaca.
“Jadi bagaimana Li. Kedua orangtuamu sudah menerima lamaranku, kini yang kutunggu tinggal jawaban darimu, “ ucap Alka seraya tersenyum sangat manis.
“Dilia Khairun Nisa, maukah kamu menerima pinanganku? Menjadi teman hidupku, berbagi suka dan duka, dan menjadi seseorang yang akan ku genggam tangannya dengan sangat erat untuk mencari keridohan illahi.”
Dilia diam. Tidak langsung memberi jawaban.
“Aku berharap kamu menerima lamaranku, namun bila memang kamu tak dapat melakukannya. Aku yakin itulah yang menjadi keputusan terbaikmu yang telah kamu diskusikan dengan Allah.”
Dilia menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dia menatap ke arah Alka, sebelum berucap dengan suara gemetar,
“Aku menerima lamaranmu, Al. Aku mau menjadi teman hidupmu, membagi suka dan duka, dan aku mau menjadi temanmu yang akan selalu kamu genggam tangannya untuk mencari keridohan Allah.”
Alka tersenyum sangat lebar.
Sekilas dia menundukkan kepalanya. Mengucapkan syukur pada Allah yang telah mempermudahkannya.
~Dalam diamku, aku mencintaimu. Tak ingin mengumbar bahagia jika tidak atas izin-Nya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Namun yang aku tahu aku harus membahagiakanmu. Bukan hanya di dunia namun aku pun harus membahagiakanmu hingga kita berjumpa dengan Dia yang telah menitipkan rasa cinta itu di hati kita.~
Hanya sebuah cerita
Senin, 10 Juni 2019
Jumat, 31 Mei 2019
Bilal dan semua keraguannya
Malam ini Bilal tidak bisa tidur. Pikirannya tidak mau diajak berdamai. Setiap detik, menit, jam berlalu tapi tetap saja dia tidak bisa memejamkan matanya.
Ingatan-ingatan tentang masa lalunya yang indah dengan Fatimah cinta pertamanya, tentang bagaimana dia dulu menulis surat-suratnya dengan penuh rasa cinta untuknya, tentang pertemuannya beberapa saat yang lalu dengan orang yang sama yang menerima surat-suratnya dulu sewaktu SMA, hingga tentang bagaimana lamarannya ditolak oleh orang yang sama yang dulu dia tahu bahwa orang itu juga mempunyai perasaan yang sama seperti rasanya padanya.
Padahal besok tepat jam 8 pagi dia diminta untuk menjadi saksi di akad nikah sahabatnya dengan orang yang dicintainya.
Tapi tetap saja dia tidak bisa tidur.
Semakin dia berusaha untuk melupakannya, semakin jelas pula ingatannya muncul.
Terutama ingatan tentang dirinya yang dulu penuh dengan keraguan yang membuatnya teramat sangat menyesal saat ini.
Ingatan tentang bagaimana dia tidak berani menentukan kepada siapa dia akan menambatkan hatinya.
Fatimah atau Zahra, kedua orang itu sama-sama menarik dimatanya. Sehingga yang awalnya dia yakin kepada Fatimah, akhirnya diapun melukainya dan tidak berani jujur kepadanya. Sedang di sisi lain dia juga tidak berani mengutarakan perasaannya kepada Zahra seperti yang telah dia lakukannya kepada Fatimah.
Setelah 4 tahun berpisah dengan Fatimah dan menjalani kuliah di satu kampus yang sama dengan Zahra ternyata dia baru sadar bahwa perasaannya kepada Zahra selama ini berbeda dengan perasaannya kepada Fatimah. Yang dia rasakan kepada Zahra ternyata hanya sebatas rasa suka dan kekaguman semata, tidak lebih. Sementara yang dia rasakan kepada Fatimah ternyata lebih dari itu, dia benar-benar mencintainya.
Namun itu semua sudah terlambat. Besok sahabat baiknya akan mengikat janji suci kepada Fatimah, orang yang dicintainya.
"Lepaskan, maka semoga yang lebih baik akan datang. Ikhlaskan, maka semoga suasana hati akan lebih ringan." Katanya berulang kali bergumam sendiri dalam kesepian malam itu.
Namun tetap saja dia tidak bisa berdamai dengan hati dan pikirannya. Rasa sesalnya terlalu besar sehingga membuatnya sulit untuk memaafkan dirinya sendiri.
"Kamu masih percaya cinta dalam diam untuk dia, sementara diam-diam dia sudah merencanakan pernikahan bukan dengan mu?" Seketika dia bertanya kepada dirinya sendiri dan membuatnya semakin tidak bisa untuk memejamkan mata.
Penyesalannya semakin menjadi karena dulu sebenarnya dia tau bahwa disaat pertemuannya dengan Fatimah untuk yang terakhir kali sebelum mereka melanjutkan kehidupan sebagai mahasiswa. Dia melihat kekecewaan yang sangat besar diwajah Fatimah sesaat setelah mendengar kata-katanya. Karena bukan omelan atau kemarahan yang diterimanya saat itu dari Fatimah, melainkan senyum kecil yang mengiringi kepergiannya.
Ya, saat itu sebenarnya dia tau bahwa perasaan Fatimah kepadanya sudah tidak mungkin sama lagi seperti yang sebelumnya. Dan dia juga tau bahwa apa yang dilakukannya itu sama saja membuang Fatimah dari hatinya. Dan dia menyesal kenapa dulu harus berkata seperti itu kepada Fatimah.
Hingga waktu menunjukkan pukul 1 dini hari akhirnya dia memutuskan untuk mengambil wudhu dan melaksanakan sholat tahajud agar hati dan pikirannya lebih tenang.
Setelah sholat tahajjud dia menutupnya dengan 3 rakaat sholat witir. Dan tepat di rakaat terakhir saat sujud tiba-tiba dia menangis. Dia teringat akan perkataan Imam Syafi'i,
"Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atasmu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap kepada selain-Nya."
Dalam sujud terakhir nya yang sangat lama dia bertanya-tanya apakah ini tandanya Allah cemburu padaku yang terlalu berharap kepada makhluk Nya?
Lalu diapun meminta maaf kepada Allah sambil menangis di sepertiga malam terakhir itu. Dan setelah itu akhirnya dia bisa tidur.
Baru sebentar tidur, adzan subuh sudah terdengar. Bilalpun bangun dan bergegas menuju ke masjid untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid.
Biasanya dia yang paling awal sampai di masjid dan lalu mengumandangkan adzan untuk membangunkan orang lain. Tapi apa boleh buat, semalam dia tidak bisa tidur sehingga membuatnya kesiangan dan harus dibangunkan oleh orang lain.
Biasanya juga setelah sholat subuh Bilal tidak tidur lagi. Entah ada saja aktivitas yang dia kerjakan. Akan tetapi pagi ini dia ingin kembali tidur lagi. Setidaknya dengan tidur dia bisa sejenak melupakan kekecewaannya. Dan bangun dengan suasana hati yang lebih baik. Begitu pikirnya.
Tepat jam 7 pagi dia bangun setelah mendengar suara alarm dari jam weker nya. Setelah itu dia mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah Fatimah, tempat dimana akad akan dilaksanakan.
Namun sebelum ke rumah Fatimah, Bilal menulis surat kepada Fatimah dan mungkin ini adalah surat terakhir untuknya.
"Kepada : Fatimah,
Assalamualaikum Fat. Ini aku Bilal. Orang yang sama yang dulu sering mengirim surat kepada mu saat masih SMA.
Kali ini sengaja aku tulis Fatimah saja, bukan Fatimah Az-Zahra seperti biasanya dulu. Agar kamu tidak salah sangka dan menganggap bahwa ini adalah untuk Zahra. Tapi tetap aku akan menitipkan ini kepada Alka, sama seperti dulu.
Disini aku hanya ingin mengucapkan selamat atas pernikahan mu dengan Alka, semoga Allah selalu merahmati kalian dengan kebaikannya. Karena aku tau Alka mencintaimu karena Allah dan mungkin karenanya juga Allah pun menghadiahkan kamu untuknya.
Juga terimakasih ku untuk mu atas kesempatan yang kau berikan padaku untuk mencintaimu dan juga merasakan cinta darimu.
Alka beruntung bisa mendapatkan mu, dan kamu pun beruntung dipilih olehnya. Yang ku tau Alka adalah orang yang baik, yang menghormati dan memperlakukan orang lain sebagaimana dia ingin diperlakukan.
Dan dia juga orang yang teguh, yang tidak pernah bermain-main soal perasaannya kepada orang lain.
Dia memang terlihat pendiam dan pemalu, tapi percayalah sebenarnya dia orang yang asik dan lumayan cerewet. Hanya saja dia pandai menyembunyikannya dan tidak memperhatikannya kepada sembarang orang.
Oiya, mungkin mulai saat ini aku hanya akan mencintaimu dalam diam, dan berharap bisa menemukan sosokmu di wanita lain nanti. Dan mungkin juga ini adalah surat terakhir dariku untukmu. Jadi tidak usah dibalas.
Sekali lagi selamat menempuh hidup baru semoga Allah selalu bersama kalian.
Aku pamit, wassalamu'alaikum.wr.wb.
Bilal Al Ayyubi."
Setelah selesai menulis surat Bilal pun berangkat ke rumah Fatimah.
Sesampainya di sana dia pun disambut dengan senyuman oleh Alka sahabat baiknya.
Lalu dia duduk sambil mendengarkan kanji suci yang diucapkan sahabatnya kepada orang yang dicintainya.
Dan ketika dia mendengar sahabatnya mengucapkan "Saya terima nikah dan kawinnya Nur Fatimah binti Abdullah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Hatinya bagaikan hancur berkeping-keping dan tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca. Dia juga hanya terdiam tidak bisa berkata-kata saat yang lainnya mengucapkan kata "sah." Seolah dia ingin menolaknya, tapi apa daya nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi.
"Mungkin ini memang yang terbaik untukku, mungkin ini adalah teguran dari sang pencipta karena cintaku kepada mahkluk Nya melebihi cintaku kepada Nya.
Mungkin juga ini balasan yang ku terima atas diriku yang tidak berani mengambil keputusan dan penuh dengan keraguan selama ini." Katanya kepada dirinya sendiri yang mencoba untuk menenangkan hatinya yang sedang menangis.
Acara pun telah selesai. Saat yang lain pamit pulang Bilal pun ikut pamit bersama mereka.
"Hey mau kemana sih, buru-buru amat? Ngobrol dulu bentar sini." Jawab Alka saat Bilal pamit kepadanya.
"Em, sebenarnya aku masih ada urusan Al, jadi maaf, aku gak bisa lama-lama disini." Balas Bilal.
"Oh gitu, baiklah. Hati-hati ya diperjalanan, salam untuk om dan tante dirumah. Dan terimakasih sudah mau menghadiri undangan ku." Jawab Al mendengar alasan Bilal.
"Siap bro insyaallah disampaikan salamnya. Oiya jaga Fatimah baik-baik ya. Awas kalau sampai kamu bikin dia nangis." Balas Bilal.
"Insyaallah. Mohon doanya ya bro, agar aku bisa menjaganya dengan baik. Dan aku doakan semoga kamu juga segera mendapat istri, biar cepet nyusul aku." Jawab Alka.
"Insyaallah aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian. Dan aamiin, terimakasih untuk doa mu bro." Balas Bilal.
"Oiya, satu pesan ku untukmu. Tugas berat seorang suami bukan mencari nafkah untuk istri dan anaknya, tetapi untuk menyelamatkan mereka dari azab api neraka. Dan seorang suami tidak akan masuk surga sebelum ditanya tentang kepemimpinannya dalam rumah tangga." Lanjut Bilal memberi nasehat kepada sahabatnya.
"Siap bro. Insyaallah aku akan berusaha semampuku untuk menjauhkan istri dan calon anakku kelak dari api neraka. Dan terimakasih sudah mengingatkan." Jawab Alka.
"Sama-sama bro. Oiya hampir lupa, ini ada pesan terakhir ku untuk Fatimah. Kali ini kamu boleh membacanya karena kamu sudah sah jadi suaminya. Yasudah, aku pamit ya. Jaga diri baik-baik. Wassalamualaikum." Balas Bilal seraya menyerahkan sepucuk surat kepada Alka.
"Insyaallah bro nanti aku sampaikan pesan mu. Wa'alaikum salam." Jawab Alka.
Lalu Bilal pun pulang dengan rasa kecewanya yang belum hilang sepenuhnya.
"Yah setidaknya Fatimah mendapat suami yang baik. Jadi aku bisa sedikit lebih tenang. Dan semoga Allah segera mempertemukan aku dengan pengganti Fatimah, agar aku juga bisa segera berdamai dengan hatiku serta pikiranku." Gumamnya dalam hati berusaha untuk menenangkan pikirannya, sambil dia melangkah untuk pulang.
Ingatan-ingatan tentang masa lalunya yang indah dengan Fatimah cinta pertamanya, tentang bagaimana dia dulu menulis surat-suratnya dengan penuh rasa cinta untuknya, tentang pertemuannya beberapa saat yang lalu dengan orang yang sama yang menerima surat-suratnya dulu sewaktu SMA, hingga tentang bagaimana lamarannya ditolak oleh orang yang sama yang dulu dia tahu bahwa orang itu juga mempunyai perasaan yang sama seperti rasanya padanya.
Padahal besok tepat jam 8 pagi dia diminta untuk menjadi saksi di akad nikah sahabatnya dengan orang yang dicintainya.
Tapi tetap saja dia tidak bisa tidur.
Semakin dia berusaha untuk melupakannya, semakin jelas pula ingatannya muncul.
Terutama ingatan tentang dirinya yang dulu penuh dengan keraguan yang membuatnya teramat sangat menyesal saat ini.
Ingatan tentang bagaimana dia tidak berani menentukan kepada siapa dia akan menambatkan hatinya.
Fatimah atau Zahra, kedua orang itu sama-sama menarik dimatanya. Sehingga yang awalnya dia yakin kepada Fatimah, akhirnya diapun melukainya dan tidak berani jujur kepadanya. Sedang di sisi lain dia juga tidak berani mengutarakan perasaannya kepada Zahra seperti yang telah dia lakukannya kepada Fatimah.
Setelah 4 tahun berpisah dengan Fatimah dan menjalani kuliah di satu kampus yang sama dengan Zahra ternyata dia baru sadar bahwa perasaannya kepada Zahra selama ini berbeda dengan perasaannya kepada Fatimah. Yang dia rasakan kepada Zahra ternyata hanya sebatas rasa suka dan kekaguman semata, tidak lebih. Sementara yang dia rasakan kepada Fatimah ternyata lebih dari itu, dia benar-benar mencintainya.
Namun itu semua sudah terlambat. Besok sahabat baiknya akan mengikat janji suci kepada Fatimah, orang yang dicintainya.
"Lepaskan, maka semoga yang lebih baik akan datang. Ikhlaskan, maka semoga suasana hati akan lebih ringan." Katanya berulang kali bergumam sendiri dalam kesepian malam itu.
Namun tetap saja dia tidak bisa berdamai dengan hati dan pikirannya. Rasa sesalnya terlalu besar sehingga membuatnya sulit untuk memaafkan dirinya sendiri.
"Kamu masih percaya cinta dalam diam untuk dia, sementara diam-diam dia sudah merencanakan pernikahan bukan dengan mu?" Seketika dia bertanya kepada dirinya sendiri dan membuatnya semakin tidak bisa untuk memejamkan mata.
Penyesalannya semakin menjadi karena dulu sebenarnya dia tau bahwa disaat pertemuannya dengan Fatimah untuk yang terakhir kali sebelum mereka melanjutkan kehidupan sebagai mahasiswa. Dia melihat kekecewaan yang sangat besar diwajah Fatimah sesaat setelah mendengar kata-katanya. Karena bukan omelan atau kemarahan yang diterimanya saat itu dari Fatimah, melainkan senyum kecil yang mengiringi kepergiannya.
Ya, saat itu sebenarnya dia tau bahwa perasaan Fatimah kepadanya sudah tidak mungkin sama lagi seperti yang sebelumnya. Dan dia juga tau bahwa apa yang dilakukannya itu sama saja membuang Fatimah dari hatinya. Dan dia menyesal kenapa dulu harus berkata seperti itu kepada Fatimah.
Hingga waktu menunjukkan pukul 1 dini hari akhirnya dia memutuskan untuk mengambil wudhu dan melaksanakan sholat tahajud agar hati dan pikirannya lebih tenang.
Setelah sholat tahajjud dia menutupnya dengan 3 rakaat sholat witir. Dan tepat di rakaat terakhir saat sujud tiba-tiba dia menangis. Dia teringat akan perkataan Imam Syafi'i,
"Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atasmu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap kepada selain-Nya."
Dalam sujud terakhir nya yang sangat lama dia bertanya-tanya apakah ini tandanya Allah cemburu padaku yang terlalu berharap kepada makhluk Nya?
Lalu diapun meminta maaf kepada Allah sambil menangis di sepertiga malam terakhir itu. Dan setelah itu akhirnya dia bisa tidur.
Baru sebentar tidur, adzan subuh sudah terdengar. Bilalpun bangun dan bergegas menuju ke masjid untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid.
Biasanya dia yang paling awal sampai di masjid dan lalu mengumandangkan adzan untuk membangunkan orang lain. Tapi apa boleh buat, semalam dia tidak bisa tidur sehingga membuatnya kesiangan dan harus dibangunkan oleh orang lain.
Biasanya juga setelah sholat subuh Bilal tidak tidur lagi. Entah ada saja aktivitas yang dia kerjakan. Akan tetapi pagi ini dia ingin kembali tidur lagi. Setidaknya dengan tidur dia bisa sejenak melupakan kekecewaannya. Dan bangun dengan suasana hati yang lebih baik. Begitu pikirnya.
Tepat jam 7 pagi dia bangun setelah mendengar suara alarm dari jam weker nya. Setelah itu dia mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah Fatimah, tempat dimana akad akan dilaksanakan.
Namun sebelum ke rumah Fatimah, Bilal menulis surat kepada Fatimah dan mungkin ini adalah surat terakhir untuknya.
"Kepada : Fatimah,
Assalamualaikum Fat. Ini aku Bilal. Orang yang sama yang dulu sering mengirim surat kepada mu saat masih SMA.
Kali ini sengaja aku tulis Fatimah saja, bukan Fatimah Az-Zahra seperti biasanya dulu. Agar kamu tidak salah sangka dan menganggap bahwa ini adalah untuk Zahra. Tapi tetap aku akan menitipkan ini kepada Alka, sama seperti dulu.
Disini aku hanya ingin mengucapkan selamat atas pernikahan mu dengan Alka, semoga Allah selalu merahmati kalian dengan kebaikannya. Karena aku tau Alka mencintaimu karena Allah dan mungkin karenanya juga Allah pun menghadiahkan kamu untuknya.
Juga terimakasih ku untuk mu atas kesempatan yang kau berikan padaku untuk mencintaimu dan juga merasakan cinta darimu.
Alka beruntung bisa mendapatkan mu, dan kamu pun beruntung dipilih olehnya. Yang ku tau Alka adalah orang yang baik, yang menghormati dan memperlakukan orang lain sebagaimana dia ingin diperlakukan.
Dan dia juga orang yang teguh, yang tidak pernah bermain-main soal perasaannya kepada orang lain.
Dia memang terlihat pendiam dan pemalu, tapi percayalah sebenarnya dia orang yang asik dan lumayan cerewet. Hanya saja dia pandai menyembunyikannya dan tidak memperhatikannya kepada sembarang orang.
Oiya, mungkin mulai saat ini aku hanya akan mencintaimu dalam diam, dan berharap bisa menemukan sosokmu di wanita lain nanti. Dan mungkin juga ini adalah surat terakhir dariku untukmu. Jadi tidak usah dibalas.
Sekali lagi selamat menempuh hidup baru semoga Allah selalu bersama kalian.
Aku pamit, wassalamu'alaikum.wr.wb.
Bilal Al Ayyubi."
Setelah selesai menulis surat Bilal pun berangkat ke rumah Fatimah.
Sesampainya di sana dia pun disambut dengan senyuman oleh Alka sahabat baiknya.
Lalu dia duduk sambil mendengarkan kanji suci yang diucapkan sahabatnya kepada orang yang dicintainya.
Dan ketika dia mendengar sahabatnya mengucapkan "Saya terima nikah dan kawinnya Nur Fatimah binti Abdullah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Hatinya bagaikan hancur berkeping-keping dan tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca. Dia juga hanya terdiam tidak bisa berkata-kata saat yang lainnya mengucapkan kata "sah." Seolah dia ingin menolaknya, tapi apa daya nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi.
"Mungkin ini memang yang terbaik untukku, mungkin ini adalah teguran dari sang pencipta karena cintaku kepada mahkluk Nya melebihi cintaku kepada Nya.
Mungkin juga ini balasan yang ku terima atas diriku yang tidak berani mengambil keputusan dan penuh dengan keraguan selama ini." Katanya kepada dirinya sendiri yang mencoba untuk menenangkan hatinya yang sedang menangis.
Acara pun telah selesai. Saat yang lain pamit pulang Bilal pun ikut pamit bersama mereka.
"Hey mau kemana sih, buru-buru amat? Ngobrol dulu bentar sini." Jawab Alka saat Bilal pamit kepadanya.
"Em, sebenarnya aku masih ada urusan Al, jadi maaf, aku gak bisa lama-lama disini." Balas Bilal.
"Oh gitu, baiklah. Hati-hati ya diperjalanan, salam untuk om dan tante dirumah. Dan terimakasih sudah mau menghadiri undangan ku." Jawab Al mendengar alasan Bilal.
"Siap bro insyaallah disampaikan salamnya. Oiya jaga Fatimah baik-baik ya. Awas kalau sampai kamu bikin dia nangis." Balas Bilal.
"Insyaallah. Mohon doanya ya bro, agar aku bisa menjaganya dengan baik. Dan aku doakan semoga kamu juga segera mendapat istri, biar cepet nyusul aku." Jawab Alka.
"Insyaallah aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian. Dan aamiin, terimakasih untuk doa mu bro." Balas Bilal.
"Oiya, satu pesan ku untukmu. Tugas berat seorang suami bukan mencari nafkah untuk istri dan anaknya, tetapi untuk menyelamatkan mereka dari azab api neraka. Dan seorang suami tidak akan masuk surga sebelum ditanya tentang kepemimpinannya dalam rumah tangga." Lanjut Bilal memberi nasehat kepada sahabatnya.
"Siap bro. Insyaallah aku akan berusaha semampuku untuk menjauhkan istri dan calon anakku kelak dari api neraka. Dan terimakasih sudah mengingatkan." Jawab Alka.
"Sama-sama bro. Oiya hampir lupa, ini ada pesan terakhir ku untuk Fatimah. Kali ini kamu boleh membacanya karena kamu sudah sah jadi suaminya. Yasudah, aku pamit ya. Jaga diri baik-baik. Wassalamualaikum." Balas Bilal seraya menyerahkan sepucuk surat kepada Alka.
"Insyaallah bro nanti aku sampaikan pesan mu. Wa'alaikum salam." Jawab Alka.
Lalu Bilal pun pulang dengan rasa kecewanya yang belum hilang sepenuhnya.
"Yah setidaknya Fatimah mendapat suami yang baik. Jadi aku bisa sedikit lebih tenang. Dan semoga Allah segera mempertemukan aku dengan pengganti Fatimah, agar aku juga bisa segera berdamai dengan hatiku serta pikiranku." Gumamnya dalam hati berusaha untuk menenangkan pikirannya, sambil dia melangkah untuk pulang.
Sabtu, 25 Mei 2019
Alka dan segala kepastiannya.
Muhammad Ali Kautsar, itulah namaku.
Namun aku biasa dipanggil alka.
Aku mahasiswa perantau di Jakarta yang berasal dari Jawa.
Aku anak kedua dari tiga bersaudara.
Aku punya kakak laki-laki satu dan adik perempuan satu.
Kakak ku sudah menikah dan kini dia sedang menjalani masa training oleh bapakku untuk persiapan menjadi pewaris usaha dagang pakaian yang telah dibangun bapak dan ibuku. Sedangkan adikku masih SMA kelas 10.
Hari ini aku wisuda. Aku bersyukur akhirnya bisa lulus dan terbebas dari dunia skripsi yang sangat menyita waktuku.
Entah kenapa wisuda kali ini terasa istimewa. Tidak seperti wisuda-wisuda yang pernah aku lalui dulu. Oiya, ini adalah wisuda ku yang ketiga kali. Yang pertama saat aku masih kecil, aku pernah diwisuda di TPA. Lalu setelah itu saat berakhirnya masa belajar ku di bangku SMA, aku juga diwisuda. Dan yang sekarang ini adalah yang ketiga kalinya yaitu sebagai sarjana psikologi.
Sebenarnya wisuda yang dulu-dulu juga menyenangkan. Tapi kali ini beda, sangat berbeda sehingga terasa istimewa.
Kalau dulu saat aku wisuda biasanya ada orangtuaku dan adiku yang datang serta menemani saat sesi pemotretan. Tapi kali ini tidak hanya orangtuaku dan adiku, melainkan juga ada sesosok wanita cantik yang insyaallah sebentar lagi akan aku nikahi.
Namanya Fatimah. Nur Fatimah. Pertama kali aku bertemu dengannya adalah di bangku SMA. Kami satu sekolah, dia di IPS 1 dan aku di IPA 4.
Oiya aku berkenalan dengannya bisa dibilang secara kebetulan. Eh tapi kata pak ustadz tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua terjadi atas ijin Allah atau bisa juga disebut takdir dari Allah. Jadi ya sebut saja ini adalah takdir yang tidak aku rencanakan, tapi Allah lah yang merencanakan.
Kurang lebih 4 tahun yang lalu waktu itu tepat satu tahun sebelum aku lulus dari SMA aku mengenalnya secara takdir Allah yang tidak aku rencanakan atau orang-orang biasanya menyebut secara kebetulan.
Aku orangnya pendiam, pemalu dan kurang pergaulan. Biasa juga disebut kuper.
Teman-teman akrab ku tidak banyak. Hanya sedikit saja dan bisa dihitung dengan jari. Salah satunya Bilal, dia adalah murid teladan di SMAku. Dia biasa dipanggil muadzin SMA karena suaranya yang merdu saat adzan. Dia juga aktif di rohis.
Bialal adalah teman sekelas ku, meskipun dia populer dikalangan siswa, tapi dia masih mau bergaul dengan ku yang kuper. Darinya aku belajar banyak hal terutama tentang sifatku yang tertutup.
Sebenarnya bukanya sengaja menutup, tapi aku adalah introvert. Pernah aku ikut tes mbti dan hasilnya tipe kepribadianku adalah intj.
INTJ adalah seorang introvert yang merasakan menggunakan intuisi (Intuition), membuat keputusan dengan berpikir (Thinking), dan melihat dunia luar dengan penilaian (Judgement). INTJ adalah seorang analitis yang lebih nyaman bekerja sendiri dan cenderung kurang bergaul dibanding orang lainnya. Begitu kata para pakar psikologi.
Tapi semenjak aku berteman dengan Bilal, perlahan aku mulai terbuka. Aku juga diajaknya bergabung dengan rohis. Ya meskipun awalnya agak canggung dan kurang nyaman, tapi lama-kelamaan aku mulai bisa membuka diriku dan mulai bertemu dengan orang-orang baru. Salah satunya Fatimah.
Sebenarnya Fatimah adalah orang yang biasa saja. Tidak ada yang spesial darinya menurutku. Dia bukan anggota rohis, pergaulannya juga biasa saja. Tapi memang dia orangnya pandai sih. Setahuku dia selalu juara satu dikelasnya. Selebihnya dia sama seperti siswi pada umumnya.
Hingga pada suatu hari Bilal menyuruhku untuk memberikan sepucuk surat kepada Fatimah dan ini juga awal aku berkenalan dengannya.
"Fatimah" panggilku kepada sesosok wanita yang sedang duduk di taman sekolah.
Lalu dia pun menoleh kearah ku sekejap dan lalu menundukkan pandangannya.
"Namamu Fatimah kan?!" Tanyaku memastikan, karena aku sebelumnya belum kenal dengan Fatimah yang dimaksud si Bilal yang katanya adalah wanita berkacamata yang sedang duduk di bangku taman.
Lalu dia hanya menganggukkan kepalanya tanpa memandang ku sama sekali.
"Surat untukmu, dari seseorang yang tempo hari melantunkan adzan di Musholla" ucapku padanya karena aku yakin dia sudah pasti tau siapa orang yang aku maksud tanpa aku harus menjelaskannya.
Lalu aku pergi begitu saja.
Hal itu terjadi berulang kali sampai hari kelulusan tiba. Dan dia belum pernah sekalipun memandang wajah ku selama aku berulang kali menyerahkan surat dari Bilal untuknya.
Hingga akhirnya hari kelulusan pun tiba.
Entah kenapa tiba-tiba Bilal meminta ku untuk menyampaikan kepada Fatimah bahwa dia ingin menemuinya di taman belakang sekolah. Dan lagi-lagi saat aku menyampaikan hal itu kepada Fatimah, dia sama sekali tidak memandang kearah ku. Dan akhirnya aku sadar ternyata Fatimah bukanlah wanita biasa. Dia bisa menjaga pandangannya dari hal yang tidak halal baginya.
Entah dia menemui Bilal atau tidak, aku tidak tahu karena sesaat setelah aku sampaikan pesan Bilal padanya aku lalu pergi meninggalkannya.
Akhirnya kamipun lulus. Aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah di luar kota dan mengambil jurusan psikologi. Karena aku orangnya suka mengamati tingkah laku orang lain dan karena aku ingin menjadi lebih terbuka lagi, maka aku putuskan untuk mengambil jurusan psikologi.
Mungkin ini juga takdir Allah, ternyata Fatimah juga kuliah di kampus yang sama dengan ku. Sebelumnya aku tidak tahu kalau dia juga kuliah disini, hingga tiba hari daftar ulang di kampus dan kami pun bertemu di aula kampus.
"Kamu Fatimah kan?" Singkat saja sapaku padanya saat itu.
"Iya. Kamu alka kan yang biasanya nganter surat dari Bilal?" Tanyanya balik padaku.
"Iya. Ngomong-ngomong kamu kuliah disini juga?" Balasku padanya.
"Iya, aku kuliah disini ngambil jurusan pendidikan matematika. Kalo kamu?" Balasnya.
"Em, sama aku juga kuliah disini tapi ngambil jurusan psikologi." Balasku.
"Oh mau jadi dokter di RSJ ya?" Tanyanya singkat sambil tersenyum dan sembari kami mengisi formulir pendaftaran di meja yang sama.
"Bisa jadi sih hehe." Jawabku singkat sambil tertawa kecil kepadanya.
"Ngomong-ngomong si Bilal apa kabar?" Tanyaku padanya singkat.
"Kenapa kamu tanya padaku?" Jawabnya dengan nada yang agak kesal.
"Kan kalian dekat, buktinya sering surat menyurat?" Balasku.
Lalu seketika raut wajahnya berubah menjadi sedih.
"Kamu kenapa? kok tiba-tiba sedih gitu?" Tanyaku penuh penasaran.
"Gakpapa." Jawabnya singkat.
"Ayolah, aku bukan anak kecil. Aku tau kamu sedih saat kutanyakan Bilal tadi." Jawabku berharap agar dia mau cerita kepadaku.
"Sebenarnya Fatimah yang dimaksud Bilal itu bukan aku, tapi si zahra ketua rohis itu." Sahutnya dengan nada agak judes.
"Oh fatimatul zahra yang duduk di belakang mu dulu waktu ditaman itu ya?" Balasku
"Iya." Jawabnya.
"Kalo begitu maafkan aku yang dulu salah ngasih surat. Kukira Fatimah yang dimaksud Bilal itu kamu" Balasku seraya memohon maaf padanya.
"Sudahlah tidak apa-apa. Aku juga sudah melupakannya" Sahutnya.
"Gini deh sebagai permintaan maaf ku padamu, gimana kalau sehabis daftar ulang kita makan di kantin? Aku traktir deh." Balasku.
"Beneran ya?" Jawabnya.
"Iya, tapi jangan banyak-banyak ya, nanti gendut." Sahutku sambil tertawa kecil.
"Iya-iya." Jawabnya sambil mulai tersenyum kembali.
Lalu setelah itu kamipun selesai mengisi formulir pendaftaran ulang. Lalu pergi ke kantin.
Setelah melakukan daftar ulang akhirnya kamipun resmi menjadi mahasiswa di kampus itu. Lalu setelah resmi menjadi mahasiswa disana, kamipun ditawari untuk bergabung dengan organisasi semacam perkumpulan mahasiswa perantau yang berasal dari kota asal kami.
Dan kamipun sama-sama menyetujui untuk bergabung bersama para kating itu.
Singkat cerita di organisasi itu kami sering bertemu karena adanya event seperti temu konco setiap sebulan sekali, buka bersama setiap seminggu sekali semasa bulan puasa, dan persiapan mudik setiap menjelang libur lebaran dan liburan akhir semester setelah UAS.
Dan lama kelamaan aku mulai tertarik padanya. Tertarik pada caranya menjaga pandangan setiap berkomunikasi dengan lawan jenis, tertarik pada caranya memperlakukan dan menghormati orang lain, tertarik pada kepribadiannya yang tidak mudah terbawa arus oleh orang-orang yang baru dikenalnya.
Karena meskipun sekarang kami banyak bertemu orang baru dengan berbagai kepribadian dan cara pikir yang berbeda-beda, namun Fatimah tidak pernah berubah dan masih sama seperti yang dulu. Dia masih memprioritaskan ibadahnya melebihi apapun, masih tetap menjaga pergaulannya terutama dengan lawan jenis, dan hal lainnya yang masih sama seperti dulu saat aku bertemu dengannya pertama kali di SMA yang juga aku pikir itu adalah hal yang membuat Bilal tertarik padanya.
Dulu aku sangat merasa bersalah saat mengetahui bahwa aku salah orang saat mengantar surat untuk pertama kalinya dulu. Aku merasa telah melukai hati Fatimah karena sepertinya Fatimah juga senang dan ada rasa dengan Bilal. Itu terlihat jelas dari dulu saat mereka saling surat menyurat.
Dia selalu terlihat senang dan bahagia sesaat setelah menerima dan mengirim balasan surat kepada Bilal.
Meskipun disisi lain juga aku tidak bisa membohongi perasaanku yang juga merasa senang saat tau bahwa ia bukan Fatimah yang Bilal maksud.
Aku merasa seolah aku punya kesempatan untuk mendapatkannya tanpa harus melukai hati sahabat ku Bilal.
Empat tahun sudah kami menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di kampus ini. Hingga saat pertemuan terakhir di organisasi pun aku akhirnya memberanikan diri untuk mengatakan bahwa aku ingin melamarnya.
Sebelumnya aku sudah berdoa kepada Allah, agar jika Fatimah adalah jodohku maka dekatkanlah, jika bukan maka jauhkanlah. Dan sepertinya kami semakin mendekat dan sepertinya dia juga sudah mulai ada rasa padaku, meskipun aku rasa itu tidak sebesar rasanya pada Bilal dulu.
Karena kampusku lumayan besar dan banyak prodi nya maka wisuda di kampus ku dilaksanakan 2 kali dalam setahun dan biasanya dilaksanakan di akhir bulan juli dan akhir bulan Agustus.
Fatimah telah lebih dulu diwisuda. Tepatnya bulan lalu tanggal 22. Dan hari ini tanggal 21 Agustus 2012 adalah giliranku untuk diwisuda.
Empat puluh satu hari yang lalu di pertemuan organisasi terakhir sebelum kelulusan dan juga mudik lebaran aku menyatakan niat baikku untuk melamar Fatimah.
Saat itu adalah minggu terakhir bulan Ramadhan dan sekaligus bukber terakhir sebelum masa libur lebaran di tahun ini. Aku dan Fatimah sudah sama-sama lulus dan hanya tinggal menunggu penetapan tanggal wisudanya saja yang rencananya aka dilaksanakan setelah libur lebaran tahun ini.
Sebelumnya juga aku sudah meminta izin kepada kedua orang tuaku dan mereka menyetujuinya karena aku sudah meyakinkan mereka bahwa ini adalah keputusanku dan aku sudah siap akan apapun yang akan aku hadapi kedepan nantinya.
Waktu itu setelah selesai buka bersama aku menghampiri Fatimah yang terlihat sedang bersiap-siap untuk pulang.
"Assalamualaikum Fat, maaf mengganggu." Sapaku padanya.
"Walaikumsalam, ada apa Al?" Jawabnya singkat padat dan jelas seperti biasanya.
"Begini fat, sebenarnya eee..." Entah kenapa tiba-tiba aku menjadi grogi dan gugup sekali saat itu sehingga kalimat-kalimat indah yang sudah aku susun dikepalaku tiba-tiba hilang semua.
"Eee... eee apa Al?" Sahut Fatimah memecah kebuntuan ku.
Lalu aku diam sejenak dan menarik nafas dalam-dalam.
"Aku suka padamu fat, dan aku ingin melamarmu." Jawabku dengan cepat bagaikan orang setelah melihat hantu.
Lalu Fatimah tersenyum kecil dan berkata
"Apa? coba ulangi lagi. Ngomongnya pelan-pelan aja Al."
"Udah deh fat, tadi juga udah jelas perasaan." Jawabku dengan nada sedikit kesal karena aku merasa tadi sudah mengucapkanya dengan jelas.
Lalu Fatimah pun tertawa kecil sebentar, dan lalu menatap ku dengan wajah serius. Dan baru kali ini aku ditatap olehnya secara langsung.
"Kamu serius?" Tanyanya kepadaku setelah tatapan yang tajam itu.
"Iya fat." Jawabku singkat.
Lalu sejenak dia memalingkan wajahnya kearah lain.
"Oh mungkin dia lagi berpikir." Ucapku didalam hati.
"Eh, tapi kok lama gini?" Tanyaku dalam hati.
"Jadi gimana fat?" Tanyaku padanya untuk memecah kesunyian antara aku dan dia.
"Eh apa apa?, maaf tadi aku gak konsen" Jawabnya sambil tersenyum.
"Jadi gimana? Lamaran ku diterima atau ditolak nih?" Tanyaku memperjelas.
"Kalo kamu beneran serius, datanglah ke rumah om ku malam ini sehabis tarawih. Kebetulan ayah ku saat ini ada dirumah om untuk menjemput ku pulang. Dan besok pagi aku akan pulang."
Jelasnya kepadaku.
Oiya selama ini Fatimah tinggal di rumah om nya yang lumayan dekat dengan kampus dan sehari sebelum liburan biasanya ayahnya datang untuk menjemput Fatimah pulang.
"Baiklah fat. Insyaallah nanti aku kesana." Jawabku atas permintaannya.
"Ada yang lain?" Tanyanya lagi kepadaku.
"Enggak fat. Itu saja yang ingin aku sampaikan kepadamu." Jawabku.
"Yaudah aku duluan ya. Assalamualaikum." Balasnya kepadaku sambil tersenyum.
"Iya fat. Walaikumsalam." Jawabku.
Lalu dia pun pergi meninggalkan ku. Dan sesaat setelah itu akupun juga pergi meninggalkan tempat itu.
Akhirnya tiba juga waktunya dan aku sudah berada didepan pintu rumahnya dengan jantungku yang berdegup kencang.
"Assalamualaikum..." Aku mengetuk pintunya sambil mengucapkan salam.
"Walaikum salam." Sahut orang didalam rumah.
"Bentar yah, biar Fatimah aja yang buka pintunya." Suara Fatimah dari dalam rumah yang terdengar olehku.
"Eh Alka. Ayo masuk Al." Sapanya kepadaku dengan senyuman.
"I iya fat." Jawabku singkat dengan nada agak gugup.
"Siapa nduk?" Tanya ayahnya Fatimah.
"Ini namanya Alka yah, dia teman kuliahku." Jawab Fatimah atas pertanyaan ayahnya.
"Permisi om." Sapaku singkat kepada ayahnya Fatimah.
"Iya silahkan duduk nak." Balas ayahnya Fatimah.
"Buatin minum buat temenya nduk, ayah teh manis anget saja." Perintah ayahnya kepada Fatimah.
"Kamu mau minum apa Al?" Tanya Fatimah kepadaku.
"Air putih saja fat." Jawabku singkat.
"Baiklah." Balas Fatimah.
Lalu Fatimah pun pergi mengambil minuman dibelakang. Dan sementara itu aku ngobrol dengan ayahnya.
"Jadi ada urusan apa kamu kemari nak?" Tanya ayah Fatimah kepadaku.
"Begini om, saya kemari karena saya ingin melamar Fathimah." Jawabku langsung to the point, karena aku bukan orang yang suka bertele-tele. Dan apapun jawabannya nanti, aku sudah siap menerimanya.
"Apa kamu sudah yakin mau melamar Fatimah?" Tanyanya lagi padaku.
"Yakin om insyaallah." Jawabku singkat.
Lalu Fatimah datang dan menghidangkan minuman untuk kami berdua.
Dan setelah menghidangkan minuman, Fatimah pun kembali ke belakang.
Lalu tinggal kami berdua lagi melanjutkan diskusi. Akupun ditanya ini dan itu, dari bagaimana aku bisa mengenal Fatimah sampai apa alasanku melamarnya. Juga masalah agama dan sholat serta hafalan Alquran ku. Tak luput juga pertanyaan mengenai keluarga hingga rencana di masa depan dan pekerjaanku.
Singkat cerita malam itu lamaran ku belum diterima, karena menurut om Abdullah ayah Fatimah aku belum siap untuk menikah katanya.
Tapi aku diberi kesempatan untuk membuktikan keseriusanku. Dalam empat puluh hari aku dilarang sama sekali untuk berhubungan dengan Fatimah dalam bentuk apapun. Aku juga diharuskan untuk sholat subuh berjamaah di masjid selama empat puluh hari berturut-turut dan tidak boleh ada yang terlewat. Aku juga diminta untuk mencari pekerjaan karena saat itu aku memang sudah lulus, tapi aku belum mendapat pekerjaan.
Lalu setelah itu akupun pamit pulang. Dan keesokan harinya aku juga mudik ke kota kelahiranku Klaten.
Sebenarnya jika dipikir-pikir syaratnya tidaklah terlalu susah. Toh hanya 40 hari tidak bertemu, sholat subuh berjamaah di masjid dan mencari pekerjaan.
Tapi entah kenapa setelah kejadian Fatimah menatap langsung ke arahku, aku seakan tidak bisa melupakannya. Yang membuat semakin lama aku semakin ingin berjumpa dengannya.
Sedang untuk sholat subuh Alhamdulillah aku tidak ada masalah dengan itu karena aku sudah biasa sholat subuh berjamaah di masjid bahkan sejak sebelum kenal dengan Fatimah.
Lalu kalau soal pekerjaan aku benar-benar mencarinya dengan sungguh-sungguh. Sejak hari pertama hingga hari ke 10 aku mulai membuat lamaran kerja dan mengirimnya ke berbagai perusahaan besar di Jawa ataupun luar Jawa via pos serta online.
Dan Alhamdulillah tepat di hari ke 21 akhirnya lamaran yang aku kirimkan via online diterima dan aku mendapat panggilan untuk melakukan wawancara kerja di Jakarta keesokan harinya di salah satu BUMN.
Dan Alhamdulillah satu minggu setelahnya tepat di hari ke 30 akhirnya aku resmi diterima kerja sebagai HRD dan mendapat penempatan kerja di Bali.
Lalu di sisa 10 hari terakhir aku semakin tak tahan untuk berjumpa dengan Fatimah, tapi aku harus menahannya. Dan cara terbaik membunuh kerinduan adalah dengan menyibukkan diriku. Maka dari itu aku mulai menyibukkan diri untuk mengurus semua keperluan ku untuk bekerja di Bali nanti. Mulai dari mencari tempat tinggal di sekitar tempat kerjaku yang dekat dengan masjid dan dilingkungan muslim via online, lalu sampai akhirnya aku dapat dan meninjaunya secara langsung ke Bali sambil juga melengkapi perabotannya sehingga nanti siap untuk aku huni bersama calon istriku kelak.
Aku beruntung terlahir di keluarga dengan keuangan yang cukup, sehingga aku tidak perlu pusing memikirkan tentang biaya pernikahan dan biaya hidup selama aku belum mendapatkan gaji di Bali nanti.
Seminggu sudah aku di Bali, dan kurasa semuanya sudah siap. Hingga akhirnya hari ke 39 aku pulang dari Bali.
Di hari ke 40 atau hari terakhir masa perjanjian ku dengan om Abdullah, aku kembali datang ke rumah Fatimah. Tapi kali bukan dirumah om nya, kali ini di rumahnya yang hanya 30 menit perjalanan dengan mobil dari rumahku.
Kali ini aku mendatanginya tidak sendirian, tapi membawa kedua orangtuaku. Akupun kembali ditanyai tentang persyaratan yang diminta om Abdullah ayahnya Fatimah, lalu akupun menjelaskannya dengan jujur sesuai dengan apa yang telah aku lakukan selama 40 hari kemarin. Dan akhirnya lamaranku pun diterima oleh ayahnya Fatimah.
Lalu om Abdullah pun memanggil Fatimah dan menyatakan bahwa telah menerima lamaran ku. Saat itu aku sangat bahagia sekali karena lamaranku diterima dan setelah sekian lama tidak bertemu akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan Fatimah.
Namun ternyata tidak begitu saja lamaranku kepada Fatimah berakhir.
"Fatimah, sini nduk, duduk di samping ayah." Suara om Abdullah memanggil dan memerintahkan putrinya untuk duduk di sampingnya sembari tangannya menepuk-nepuk kursi di sampingnya. Dan lalu Fatimah pun duduk.
"Ayah sudah menyaksikan sendiri keseriusan nak Alka untuk melamar mu nduk, dan ayah pribadi bersama ibu tidak keberatan dan menerimanya untuk menjadi calon suami mu." Lanjutnya memberi penjelasan tentang apa pendapatnya.
"Tapi biar bagaimanapun juga yang paling berhak menentukan kehidupamu, masa depanmu, dan kebahagiaanmu adalah kamu sendiri nduk." Lanjutnya lagi.
"Ayah kembalikan lagi keputusan akhirnya kepadamu. Dan ayah akan hormati apapun yang kamu putuskan. Ayah yakin kamu sudah besar dan cukup dewasa untuk memilih sendiri mana jalan yang ingin kamu lalui kedepannya." Ucap om Abdullah.
"Kalo aku percaya sama apa keputusan ayah fat." Sambung bang Ahmad kakaknya Fatimah dan juga anak pertama di keluarga itu.
Aku sempat agak kecewa karena aku kira dengan diterimanya lamaranku oleh om Abdullah selaku kepala keluarga, maka diterima juga lamaranku oleh semua keluarganya termasuk Fatimah. Yang juga adalah orang yang aku lamar.
"Nur Fatimah binti Abdullah, bersediakah kau untuk menikah denganku?" Tanyaku padanya dengan nada tegas sebagai bukti bahwa aku benar-benar serius ingin menikahinya.
Lalu Fatimah pun hanya terdiam sambil tertunduk untuk beberapa saat. Dan semuanyapun jadi ikut diam.
"Mungkin dia masih memikirkan Bilal, yang baru saja kembali ke kehidupannya dan masih menunggunya." Pikirku dalam hati.
Karena minggu lalu aku sempat berjumpa Bilal yang juga sudah lulus dan pulang setelah 4th kuliah di Bandung.
Saking lamanya dia terdiam tanpa kata, aku pun mulai kehilangan kepercayaan diri dan sudah siap apabila setelah semua yang aku lakukan pada akhirnya tetap tidak diterima.
Dan memasrahkan semuanya pada Allah sang maha pembolak-balik hati.
Aku juga meyakinkan diriku bahwa apapun jawabannya nanti tidak masalah, karena aku telah berusaha semampuku.
Dan jika ini tidak berhasil, aku berbaik sangka bahwa Allah telah menyiapkan yang lebih baik untuk ku dimasa datang. Dan aku juga percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik perencana.
"Setidaknya aku sudah membuktikan padanya bahwa niatku tidak main-main." Ucapku dalam hati untuk meredam rasa kecewaku yang tidak bisa aku sembunyikan.
"Nur Fatimah binti Abdullah, bersediakah kau untuk menikah denganku?" Tanyaku padanya lagi untuk memastikan bahwa ia disana dan mendengar pertanyaan ku.
"Bismillah. Iya aku mau Al." Jawab Fatimah seraya menganggukkan kepalanya.
Tiba-tiba semua kaget dengan jawaban Fatimah barusan. Dan sontak semua mengucap "Alhamdulillah" sebagai rasa syukur kepada Allah Tuhan semesta alam.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah." Ucapku spontan dengan nada paling keras sambil menitihkan air mata karena terharu. Yang juga membuat seisi rumah itu tertawa.
"Terimakasih ya fat, kamu sudah mau percaya padaku." Ucapku lembut kepada Fatimah seraya aku memandangi wajahnya yang saat itu terlihat sangat cantik di depan ku.
"Sudah-sudah. Jangan lama-lama mandanginya, belum muhrim." Lerai ibuku yang duduk di samping ku sambil tangannya mencubit pinggang ku.
"Iya iya buu. Maaf khilaf." Jawabku sambil meringis karena menahan rasa sakit akibat cubitan ibuku.
Lalu hari ini tepat seminggu yang lalu setelah lamaran ku diterima Fatimah beserta keluarganya akupun diwisuda dan resmi wis udah alias sudah lulus.
Yang mana ini juga merupakan wisuda ku yang paling istimewa karena sebelum pulang dari rumah Fatimah, aku sempat memintanya untuk datang ke acara wisudaku dan ternyata hari ini dia benar-benar datang bersama bang Ahmad.
Dan minggu depan insyaallah aku akan melangsungkan pernikahan dengan Fatimah. Lalu minggu depannya lagi aku akan membawanya ke Bali untuk bersama-sama memulai kehidupan baru di sana insyaallah.
Oiya, setelah selesai acara wisuda aku mengajak Fatimah berbicara sebentar untuk memastikan rasa penasaran ku. Karena tiga hari setelah lamaran ku diterima Fatimah, Bilal datang berkunjung ketumahku sekaligus mengucapkan selamat karena lamaranku telah diterima Fatimah dan sebentar lagi akan menikahinya.
Waktu itu sore, bada Ashar bilal datang kerumahku.
"Assalamualaikum." Ucap Bilal dengan keras.
"Walaikumsalam." Jawabku dari dalam rumah. Sambil membuka pintu.
"Al, apa kabar?" Tanyanya sambil menepuk pundak ku dan mengajak salaman.
"Eh Bialal. Alhamdulillah baik bro. Kamu sendiri gimana?" Balas ku padanya sambil menepuk balik pundaknya.
"Alhamdulillah baik juga bro. Btw selamat ya yang barusan diterima lamarannya ciye." Katanya sambil tertawa kepadaku.
"Wah tau darimana nih, pasti dari Fatimah ya?" Balasku sambil bertanya kepadanya.
"Iya bro. Baru aja kemarin aku main kerumahnya Fatimah. Makanya aku tau haha." Jawabannya sambil tertawa lagi.
"Oh gitu, tumben kamu kerumah Fatimah?" Tanyaku padanya.
"Ciye cemburu ni yee..." Balasannya sambil tertawa lagi.
"Enggak, tapi kan setahu ku kamu kamu gak suka sama Fatimah kan tapi Zahra kan?" Balasku padanya.
"Iya sih. Cuma sebenarnya dulu saat pertama itu aku emang suka sama Fatimah bro, tapi entah kenapa saat mendekati kelulusan aku juga mulai melirik ke Zahra yang terlihat lebih menarik dari Fatimah. Tapi kurang lebih 2 minggu yang lalu aku berjumpa dengan Fatimah lagi dan entah kenapa setelah pertemuan itu aku selalu memikirkannya. Sama seperti dulu saat sebelum aku menyuruhmu untuk mengantar surat ku kepadanya." Jawab Bilal.
"Berarti dulu aku nggak salah orang dong kayak yang dibilang Fatimah?" Balasku.
"Enggak. Memang dia Fatimah yang aku maksud saat itu. Dan bukanya si Zahra. Tapi yang Fatimah bilang kekamu itu emang bener sih. Jadi dulu emang aku ngomong gitu pas ditaman belakang sekolah." Jawabnya.
"Wah aku jadi nggak enak ini bro sama kamu." Balasku.
"Nggak papa bro. Lagian ini emang salahku yang dulu suka pada dua orang wanita, tapi tidak berani menentukan yang mana yang aku harus pilih." Jawabannya.
"Beneran gak papa? Minggu depan kita mau nikah lho..." Balasku sambil tertawa.
"Iya iya yang mau nikah." Balasnya sambil tertawa pula.
"Btw kamu kamu kemarin ngapain kerumahnya Fatimah?" Tanyaku lagi.
"Ya jujur aja sih kemarin aku niatnya mau ngelamar Fatimah, eh malah ditolak karena udah keduluan kamu katanya. Sial emang" Balasannya sambil tertawa.
"Lah si muadzin. Kamu gak ngomong sih sama aku. Kan jadinya ditolak kan. Tapi serius nih gak papa?, Ikhlas melepas Fatimah buat aku?" Tanyaku dengan serius padanya.
"Iya. ikhlas deh. Tapi kamu harus janji ya jagain dia dengan baik. Dan awas aja ya kalo berani nyakitin dia." Balasannya.
"Pasti itu bro. Kamu tenang aja deh." Jawabku.
"Btw kamu kan lulusan psikologi ya, pasti punya banyak saran nih buat aku yang lagi galau pingin nikah juga, tapi bingung sama siapa." Tanyanya kepadaku.
"Gini ya kawan, kalau kamu suka pada dua orang wanita, maka pilihlah yang kedua." Balasku kepadanya.
"Lah kok gitu, kenapa?" Tanyanya lagi dengan muka serius.
"Karena kalo rasamu pada yang pertama kurang besar sehingga yang kedua bisa masuk kehatimu. Atau jika cintamu pada yang pertama sangat besar, maka yang kedua tidak akan hadir dalam pikiranmu." Balasku padanya.
"Iya juga ya. Wah emang asli psikolog kamu Al sekarang. Bisa tau yang kayak gini. Yang gak pernah kepikiran sama aku." Jawabnya sambil memujiku.
"Wo iya dong. Btw Zahra masih free kan?" Tanyaku sambil tertawa.
"Kayaknya sih masih." Balasnya singkat.
"Udah itu aja kejar. Orang kayak kamu mah gampang buat nyari cewek. Tinggal di adzanin juga udah klepek-klepek dia." Balasku sambil tertawa.
"Yee bisa aja ni dokter jiwa." Celetuknya kepadaku sambil tertawa juga.
Singkat cerita kamipun lanjut ngobrol tentang masa lalu dan masa depan. Lalu sesaat sebelum adzan maghrib pun dia pamit pulang.
"Fatimah, kemarin Bilal kerumahmu ya?" Tanyaku pada calon istriku.
"Iya Al. Dia datang ke rumahku untuk melamar ku kemarin. Tapi aku tolak karena aku sudah menerima lamaranmu." Jawabannya memuaskan rasa penasaran ku sekaligus meyakinkan ku bahwa ini adalah wanita yang sama seperti yang aku kagumi dan tidak pernah berubah bagaimanapun keadaannya.
"Terus ngapain lagi?" Tanyaku lagi.
"Udah habis itu dia langsung pulang. Bahkan belum sempat aku buatkan minum." Jawabannya dengan nada agak kesal.
"Maaf ya kalo aku hadir diantara kalian dan memisahkan kalian." Sahutku dengan nada lembut seraya meminta maaf.
"Udah Al, kamu gak salah. Dan aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa memilih mana yang aku rasa terbaik untukku dan sudah memikirkannya secara matang. Memang dulu aku pernah ada rasa pada Bilal, aku tak memungkiri itu. Tapi lambat laun rasa itu semakin memudar. Dan di saat yang sama kamu datang dengan segala persiapan matang mu, kepastian mu dan keseriusan mu. Dan itu yang membuat hatiku akhirnya memilih mu. Jadi kamu gak perlu minta maaf. Karena aku memilih mu dengan hati dan bukan karena paksaan siapapun." Jawabannya dengan senyuman sekaligus meyakinkan ku bahwa dia tidak ada rasa penyesalan sama sekali karena telah memilih ku.
"Sekali lagi terimakasih ya fat, sudah memilihku dan aku berjanji tidak akan mengecewakan mu." Balasku dengan senyum sebagai rasa terimakasih ku kepadanya.
"Iya Al sama-sama. Terimakasih juga sudah berjuang untuk ku. Tapi janjinya nanti saja ya didepan ayahku yang insyaallah akan menjadi wali nikah di pernikahan kita nanti." Balasnya dengan senyum manis.
"Baiklah calon ratuku." Jawabku sambil tertawa kecil kepadanya.
"Udah deh, gak usah gombal. Kita belum sah. Jadi aku masih harus menjaga perasaan ku." Jawabannya sambil tersenyum manis lagi, yang membuat ku semakin bersyukur kepada Allah atas Nikmatnya yang begitu besar.
Lalu setelah itu kamipun pulang.
Mungkin benar adanya bahwa nama adalah doa seumur hidup dari orang tua untuk anaknya. Yah seperti namaku Muhammad Ali Kautsar. Dimana harapan orang tuaku adalah agar aku senantiasa menjadi pengikut Muhammad, yang dipertemukan dengan Fatimah seperti halnya Ali, dan senantiasa mendapat nikmat yang banyak (Kautsar) baik dunia maupun akhirat. Insyaallah.
Namun aku biasa dipanggil alka.
Aku mahasiswa perantau di Jakarta yang berasal dari Jawa.
Aku anak kedua dari tiga bersaudara.
Aku punya kakak laki-laki satu dan adik perempuan satu.
Kakak ku sudah menikah dan kini dia sedang menjalani masa training oleh bapakku untuk persiapan menjadi pewaris usaha dagang pakaian yang telah dibangun bapak dan ibuku. Sedangkan adikku masih SMA kelas 10.
Hari ini aku wisuda. Aku bersyukur akhirnya bisa lulus dan terbebas dari dunia skripsi yang sangat menyita waktuku.
Entah kenapa wisuda kali ini terasa istimewa. Tidak seperti wisuda-wisuda yang pernah aku lalui dulu. Oiya, ini adalah wisuda ku yang ketiga kali. Yang pertama saat aku masih kecil, aku pernah diwisuda di TPA. Lalu setelah itu saat berakhirnya masa belajar ku di bangku SMA, aku juga diwisuda. Dan yang sekarang ini adalah yang ketiga kalinya yaitu sebagai sarjana psikologi.
Sebenarnya wisuda yang dulu-dulu juga menyenangkan. Tapi kali ini beda, sangat berbeda sehingga terasa istimewa.
Kalau dulu saat aku wisuda biasanya ada orangtuaku dan adiku yang datang serta menemani saat sesi pemotretan. Tapi kali ini tidak hanya orangtuaku dan adiku, melainkan juga ada sesosok wanita cantik yang insyaallah sebentar lagi akan aku nikahi.
Namanya Fatimah. Nur Fatimah. Pertama kali aku bertemu dengannya adalah di bangku SMA. Kami satu sekolah, dia di IPS 1 dan aku di IPA 4.
Oiya aku berkenalan dengannya bisa dibilang secara kebetulan. Eh tapi kata pak ustadz tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua terjadi atas ijin Allah atau bisa juga disebut takdir dari Allah. Jadi ya sebut saja ini adalah takdir yang tidak aku rencanakan, tapi Allah lah yang merencanakan.
Kurang lebih 4 tahun yang lalu waktu itu tepat satu tahun sebelum aku lulus dari SMA aku mengenalnya secara takdir Allah yang tidak aku rencanakan atau orang-orang biasanya menyebut secara kebetulan.
Aku orangnya pendiam, pemalu dan kurang pergaulan. Biasa juga disebut kuper.
Teman-teman akrab ku tidak banyak. Hanya sedikit saja dan bisa dihitung dengan jari. Salah satunya Bilal, dia adalah murid teladan di SMAku. Dia biasa dipanggil muadzin SMA karena suaranya yang merdu saat adzan. Dia juga aktif di rohis.
Bialal adalah teman sekelas ku, meskipun dia populer dikalangan siswa, tapi dia masih mau bergaul dengan ku yang kuper. Darinya aku belajar banyak hal terutama tentang sifatku yang tertutup.
Sebenarnya bukanya sengaja menutup, tapi aku adalah introvert. Pernah aku ikut tes mbti dan hasilnya tipe kepribadianku adalah intj.
INTJ adalah seorang introvert yang merasakan menggunakan intuisi (Intuition), membuat keputusan dengan berpikir (Thinking), dan melihat dunia luar dengan penilaian (Judgement). INTJ adalah seorang analitis yang lebih nyaman bekerja sendiri dan cenderung kurang bergaul dibanding orang lainnya. Begitu kata para pakar psikologi.
Tapi semenjak aku berteman dengan Bilal, perlahan aku mulai terbuka. Aku juga diajaknya bergabung dengan rohis. Ya meskipun awalnya agak canggung dan kurang nyaman, tapi lama-kelamaan aku mulai bisa membuka diriku dan mulai bertemu dengan orang-orang baru. Salah satunya Fatimah.
Sebenarnya Fatimah adalah orang yang biasa saja. Tidak ada yang spesial darinya menurutku. Dia bukan anggota rohis, pergaulannya juga biasa saja. Tapi memang dia orangnya pandai sih. Setahuku dia selalu juara satu dikelasnya. Selebihnya dia sama seperti siswi pada umumnya.
Hingga pada suatu hari Bilal menyuruhku untuk memberikan sepucuk surat kepada Fatimah dan ini juga awal aku berkenalan dengannya.
"Fatimah" panggilku kepada sesosok wanita yang sedang duduk di taman sekolah.
Lalu dia pun menoleh kearah ku sekejap dan lalu menundukkan pandangannya.
"Namamu Fatimah kan?!" Tanyaku memastikan, karena aku sebelumnya belum kenal dengan Fatimah yang dimaksud si Bilal yang katanya adalah wanita berkacamata yang sedang duduk di bangku taman.
Lalu dia hanya menganggukkan kepalanya tanpa memandang ku sama sekali.
"Surat untukmu, dari seseorang yang tempo hari melantunkan adzan di Musholla" ucapku padanya karena aku yakin dia sudah pasti tau siapa orang yang aku maksud tanpa aku harus menjelaskannya.
Lalu aku pergi begitu saja.
Hal itu terjadi berulang kali sampai hari kelulusan tiba. Dan dia belum pernah sekalipun memandang wajah ku selama aku berulang kali menyerahkan surat dari Bilal untuknya.
Hingga akhirnya hari kelulusan pun tiba.
Entah kenapa tiba-tiba Bilal meminta ku untuk menyampaikan kepada Fatimah bahwa dia ingin menemuinya di taman belakang sekolah. Dan lagi-lagi saat aku menyampaikan hal itu kepada Fatimah, dia sama sekali tidak memandang kearah ku. Dan akhirnya aku sadar ternyata Fatimah bukanlah wanita biasa. Dia bisa menjaga pandangannya dari hal yang tidak halal baginya.
Entah dia menemui Bilal atau tidak, aku tidak tahu karena sesaat setelah aku sampaikan pesan Bilal padanya aku lalu pergi meninggalkannya.
Akhirnya kamipun lulus. Aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah di luar kota dan mengambil jurusan psikologi. Karena aku orangnya suka mengamati tingkah laku orang lain dan karena aku ingin menjadi lebih terbuka lagi, maka aku putuskan untuk mengambil jurusan psikologi.
Mungkin ini juga takdir Allah, ternyata Fatimah juga kuliah di kampus yang sama dengan ku. Sebelumnya aku tidak tahu kalau dia juga kuliah disini, hingga tiba hari daftar ulang di kampus dan kami pun bertemu di aula kampus.
"Kamu Fatimah kan?" Singkat saja sapaku padanya saat itu.
"Iya. Kamu alka kan yang biasanya nganter surat dari Bilal?" Tanyanya balik padaku.
"Iya. Ngomong-ngomong kamu kuliah disini juga?" Balasku padanya.
"Iya, aku kuliah disini ngambil jurusan pendidikan matematika. Kalo kamu?" Balasnya.
"Em, sama aku juga kuliah disini tapi ngambil jurusan psikologi." Balasku.
"Oh mau jadi dokter di RSJ ya?" Tanyanya singkat sambil tersenyum dan sembari kami mengisi formulir pendaftaran di meja yang sama.
"Bisa jadi sih hehe." Jawabku singkat sambil tertawa kecil kepadanya.
"Ngomong-ngomong si Bilal apa kabar?" Tanyaku padanya singkat.
"Kenapa kamu tanya padaku?" Jawabnya dengan nada yang agak kesal.
"Kan kalian dekat, buktinya sering surat menyurat?" Balasku.
Lalu seketika raut wajahnya berubah menjadi sedih.
"Kamu kenapa? kok tiba-tiba sedih gitu?" Tanyaku penuh penasaran.
"Gakpapa." Jawabnya singkat.
"Ayolah, aku bukan anak kecil. Aku tau kamu sedih saat kutanyakan Bilal tadi." Jawabku berharap agar dia mau cerita kepadaku.
"Sebenarnya Fatimah yang dimaksud Bilal itu bukan aku, tapi si zahra ketua rohis itu." Sahutnya dengan nada agak judes.
"Oh fatimatul zahra yang duduk di belakang mu dulu waktu ditaman itu ya?" Balasku
"Iya." Jawabnya.
"Kalo begitu maafkan aku yang dulu salah ngasih surat. Kukira Fatimah yang dimaksud Bilal itu kamu" Balasku seraya memohon maaf padanya.
"Sudahlah tidak apa-apa. Aku juga sudah melupakannya" Sahutnya.
"Gini deh sebagai permintaan maaf ku padamu, gimana kalau sehabis daftar ulang kita makan di kantin? Aku traktir deh." Balasku.
"Beneran ya?" Jawabnya.
"Iya, tapi jangan banyak-banyak ya, nanti gendut." Sahutku sambil tertawa kecil.
"Iya-iya." Jawabnya sambil mulai tersenyum kembali.
Lalu setelah itu kamipun selesai mengisi formulir pendaftaran ulang. Lalu pergi ke kantin.
Setelah melakukan daftar ulang akhirnya kamipun resmi menjadi mahasiswa di kampus itu. Lalu setelah resmi menjadi mahasiswa disana, kamipun ditawari untuk bergabung dengan organisasi semacam perkumpulan mahasiswa perantau yang berasal dari kota asal kami.
Dan kamipun sama-sama menyetujui untuk bergabung bersama para kating itu.
Singkat cerita di organisasi itu kami sering bertemu karena adanya event seperti temu konco setiap sebulan sekali, buka bersama setiap seminggu sekali semasa bulan puasa, dan persiapan mudik setiap menjelang libur lebaran dan liburan akhir semester setelah UAS.
Dan lama kelamaan aku mulai tertarik padanya. Tertarik pada caranya menjaga pandangan setiap berkomunikasi dengan lawan jenis, tertarik pada caranya memperlakukan dan menghormati orang lain, tertarik pada kepribadiannya yang tidak mudah terbawa arus oleh orang-orang yang baru dikenalnya.
Karena meskipun sekarang kami banyak bertemu orang baru dengan berbagai kepribadian dan cara pikir yang berbeda-beda, namun Fatimah tidak pernah berubah dan masih sama seperti yang dulu. Dia masih memprioritaskan ibadahnya melebihi apapun, masih tetap menjaga pergaulannya terutama dengan lawan jenis, dan hal lainnya yang masih sama seperti dulu saat aku bertemu dengannya pertama kali di SMA yang juga aku pikir itu adalah hal yang membuat Bilal tertarik padanya.
Dulu aku sangat merasa bersalah saat mengetahui bahwa aku salah orang saat mengantar surat untuk pertama kalinya dulu. Aku merasa telah melukai hati Fatimah karena sepertinya Fatimah juga senang dan ada rasa dengan Bilal. Itu terlihat jelas dari dulu saat mereka saling surat menyurat.
Dia selalu terlihat senang dan bahagia sesaat setelah menerima dan mengirim balasan surat kepada Bilal.
Meskipun disisi lain juga aku tidak bisa membohongi perasaanku yang juga merasa senang saat tau bahwa ia bukan Fatimah yang Bilal maksud.
Aku merasa seolah aku punya kesempatan untuk mendapatkannya tanpa harus melukai hati sahabat ku Bilal.
Empat tahun sudah kami menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di kampus ini. Hingga saat pertemuan terakhir di organisasi pun aku akhirnya memberanikan diri untuk mengatakan bahwa aku ingin melamarnya.
Sebelumnya aku sudah berdoa kepada Allah, agar jika Fatimah adalah jodohku maka dekatkanlah, jika bukan maka jauhkanlah. Dan sepertinya kami semakin mendekat dan sepertinya dia juga sudah mulai ada rasa padaku, meskipun aku rasa itu tidak sebesar rasanya pada Bilal dulu.
Karena kampusku lumayan besar dan banyak prodi nya maka wisuda di kampus ku dilaksanakan 2 kali dalam setahun dan biasanya dilaksanakan di akhir bulan juli dan akhir bulan Agustus.
Fatimah telah lebih dulu diwisuda. Tepatnya bulan lalu tanggal 22. Dan hari ini tanggal 21 Agustus 2012 adalah giliranku untuk diwisuda.
Empat puluh satu hari yang lalu di pertemuan organisasi terakhir sebelum kelulusan dan juga mudik lebaran aku menyatakan niat baikku untuk melamar Fatimah.
Saat itu adalah minggu terakhir bulan Ramadhan dan sekaligus bukber terakhir sebelum masa libur lebaran di tahun ini. Aku dan Fatimah sudah sama-sama lulus dan hanya tinggal menunggu penetapan tanggal wisudanya saja yang rencananya aka dilaksanakan setelah libur lebaran tahun ini.
Sebelumnya juga aku sudah meminta izin kepada kedua orang tuaku dan mereka menyetujuinya karena aku sudah meyakinkan mereka bahwa ini adalah keputusanku dan aku sudah siap akan apapun yang akan aku hadapi kedepan nantinya.
Waktu itu setelah selesai buka bersama aku menghampiri Fatimah yang terlihat sedang bersiap-siap untuk pulang.
"Assalamualaikum Fat, maaf mengganggu." Sapaku padanya.
"Walaikumsalam, ada apa Al?" Jawabnya singkat padat dan jelas seperti biasanya.
"Begini fat, sebenarnya eee..." Entah kenapa tiba-tiba aku menjadi grogi dan gugup sekali saat itu sehingga kalimat-kalimat indah yang sudah aku susun dikepalaku tiba-tiba hilang semua.
"Eee... eee apa Al?" Sahut Fatimah memecah kebuntuan ku.
Lalu aku diam sejenak dan menarik nafas dalam-dalam.
"Aku suka padamu fat, dan aku ingin melamarmu." Jawabku dengan cepat bagaikan orang setelah melihat hantu.
Lalu Fatimah tersenyum kecil dan berkata
"Apa? coba ulangi lagi. Ngomongnya pelan-pelan aja Al."
"Udah deh fat, tadi juga udah jelas perasaan." Jawabku dengan nada sedikit kesal karena aku merasa tadi sudah mengucapkanya dengan jelas.
Lalu Fatimah pun tertawa kecil sebentar, dan lalu menatap ku dengan wajah serius. Dan baru kali ini aku ditatap olehnya secara langsung.
"Kamu serius?" Tanyanya kepadaku setelah tatapan yang tajam itu.
"Iya fat." Jawabku singkat.
Lalu sejenak dia memalingkan wajahnya kearah lain.
"Oh mungkin dia lagi berpikir." Ucapku didalam hati.
"Eh, tapi kok lama gini?" Tanyaku dalam hati.
"Jadi gimana fat?" Tanyaku padanya untuk memecah kesunyian antara aku dan dia.
"Eh apa apa?, maaf tadi aku gak konsen" Jawabnya sambil tersenyum.
"Jadi gimana? Lamaran ku diterima atau ditolak nih?" Tanyaku memperjelas.
"Kalo kamu beneran serius, datanglah ke rumah om ku malam ini sehabis tarawih. Kebetulan ayah ku saat ini ada dirumah om untuk menjemput ku pulang. Dan besok pagi aku akan pulang."
Jelasnya kepadaku.
Oiya selama ini Fatimah tinggal di rumah om nya yang lumayan dekat dengan kampus dan sehari sebelum liburan biasanya ayahnya datang untuk menjemput Fatimah pulang.
"Baiklah fat. Insyaallah nanti aku kesana." Jawabku atas permintaannya.
"Ada yang lain?" Tanyanya lagi kepadaku.
"Enggak fat. Itu saja yang ingin aku sampaikan kepadamu." Jawabku.
"Yaudah aku duluan ya. Assalamualaikum." Balasnya kepadaku sambil tersenyum.
"Iya fat. Walaikumsalam." Jawabku.
Lalu dia pun pergi meninggalkan ku. Dan sesaat setelah itu akupun juga pergi meninggalkan tempat itu.
Akhirnya tiba juga waktunya dan aku sudah berada didepan pintu rumahnya dengan jantungku yang berdegup kencang.
"Assalamualaikum..." Aku mengetuk pintunya sambil mengucapkan salam.
"Walaikum salam." Sahut orang didalam rumah.
"Bentar yah, biar Fatimah aja yang buka pintunya." Suara Fatimah dari dalam rumah yang terdengar olehku.
"Eh Alka. Ayo masuk Al." Sapanya kepadaku dengan senyuman.
"I iya fat." Jawabku singkat dengan nada agak gugup.
"Siapa nduk?" Tanya ayahnya Fatimah.
"Ini namanya Alka yah, dia teman kuliahku." Jawab Fatimah atas pertanyaan ayahnya.
"Permisi om." Sapaku singkat kepada ayahnya Fatimah.
"Iya silahkan duduk nak." Balas ayahnya Fatimah.
"Buatin minum buat temenya nduk, ayah teh manis anget saja." Perintah ayahnya kepada Fatimah.
"Kamu mau minum apa Al?" Tanya Fatimah kepadaku.
"Air putih saja fat." Jawabku singkat.
"Baiklah." Balas Fatimah.
Lalu Fatimah pun pergi mengambil minuman dibelakang. Dan sementara itu aku ngobrol dengan ayahnya.
"Jadi ada urusan apa kamu kemari nak?" Tanya ayah Fatimah kepadaku.
"Begini om, saya kemari karena saya ingin melamar Fathimah." Jawabku langsung to the point, karena aku bukan orang yang suka bertele-tele. Dan apapun jawabannya nanti, aku sudah siap menerimanya.
"Apa kamu sudah yakin mau melamar Fatimah?" Tanyanya lagi padaku.
"Yakin om insyaallah." Jawabku singkat.
Lalu Fatimah datang dan menghidangkan minuman untuk kami berdua.
Dan setelah menghidangkan minuman, Fatimah pun kembali ke belakang.
Lalu tinggal kami berdua lagi melanjutkan diskusi. Akupun ditanya ini dan itu, dari bagaimana aku bisa mengenal Fatimah sampai apa alasanku melamarnya. Juga masalah agama dan sholat serta hafalan Alquran ku. Tak luput juga pertanyaan mengenai keluarga hingga rencana di masa depan dan pekerjaanku.
Singkat cerita malam itu lamaran ku belum diterima, karena menurut om Abdullah ayah Fatimah aku belum siap untuk menikah katanya.
Tapi aku diberi kesempatan untuk membuktikan keseriusanku. Dalam empat puluh hari aku dilarang sama sekali untuk berhubungan dengan Fatimah dalam bentuk apapun. Aku juga diharuskan untuk sholat subuh berjamaah di masjid selama empat puluh hari berturut-turut dan tidak boleh ada yang terlewat. Aku juga diminta untuk mencari pekerjaan karena saat itu aku memang sudah lulus, tapi aku belum mendapat pekerjaan.
Lalu setelah itu akupun pamit pulang. Dan keesokan harinya aku juga mudik ke kota kelahiranku Klaten.
Sebenarnya jika dipikir-pikir syaratnya tidaklah terlalu susah. Toh hanya 40 hari tidak bertemu, sholat subuh berjamaah di masjid dan mencari pekerjaan.
Tapi entah kenapa setelah kejadian Fatimah menatap langsung ke arahku, aku seakan tidak bisa melupakannya. Yang membuat semakin lama aku semakin ingin berjumpa dengannya.
Sedang untuk sholat subuh Alhamdulillah aku tidak ada masalah dengan itu karena aku sudah biasa sholat subuh berjamaah di masjid bahkan sejak sebelum kenal dengan Fatimah.
Lalu kalau soal pekerjaan aku benar-benar mencarinya dengan sungguh-sungguh. Sejak hari pertama hingga hari ke 10 aku mulai membuat lamaran kerja dan mengirimnya ke berbagai perusahaan besar di Jawa ataupun luar Jawa via pos serta online.
Dan Alhamdulillah tepat di hari ke 21 akhirnya lamaran yang aku kirimkan via online diterima dan aku mendapat panggilan untuk melakukan wawancara kerja di Jakarta keesokan harinya di salah satu BUMN.
Dan Alhamdulillah satu minggu setelahnya tepat di hari ke 30 akhirnya aku resmi diterima kerja sebagai HRD dan mendapat penempatan kerja di Bali.
Lalu di sisa 10 hari terakhir aku semakin tak tahan untuk berjumpa dengan Fatimah, tapi aku harus menahannya. Dan cara terbaik membunuh kerinduan adalah dengan menyibukkan diriku. Maka dari itu aku mulai menyibukkan diri untuk mengurus semua keperluan ku untuk bekerja di Bali nanti. Mulai dari mencari tempat tinggal di sekitar tempat kerjaku yang dekat dengan masjid dan dilingkungan muslim via online, lalu sampai akhirnya aku dapat dan meninjaunya secara langsung ke Bali sambil juga melengkapi perabotannya sehingga nanti siap untuk aku huni bersama calon istriku kelak.
Aku beruntung terlahir di keluarga dengan keuangan yang cukup, sehingga aku tidak perlu pusing memikirkan tentang biaya pernikahan dan biaya hidup selama aku belum mendapatkan gaji di Bali nanti.
Seminggu sudah aku di Bali, dan kurasa semuanya sudah siap. Hingga akhirnya hari ke 39 aku pulang dari Bali.
Di hari ke 40 atau hari terakhir masa perjanjian ku dengan om Abdullah, aku kembali datang ke rumah Fatimah. Tapi kali bukan dirumah om nya, kali ini di rumahnya yang hanya 30 menit perjalanan dengan mobil dari rumahku.
Kali ini aku mendatanginya tidak sendirian, tapi membawa kedua orangtuaku. Akupun kembali ditanyai tentang persyaratan yang diminta om Abdullah ayahnya Fatimah, lalu akupun menjelaskannya dengan jujur sesuai dengan apa yang telah aku lakukan selama 40 hari kemarin. Dan akhirnya lamaranku pun diterima oleh ayahnya Fatimah.
Lalu om Abdullah pun memanggil Fatimah dan menyatakan bahwa telah menerima lamaran ku. Saat itu aku sangat bahagia sekali karena lamaranku diterima dan setelah sekian lama tidak bertemu akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan Fatimah.
Namun ternyata tidak begitu saja lamaranku kepada Fatimah berakhir.
"Fatimah, sini nduk, duduk di samping ayah." Suara om Abdullah memanggil dan memerintahkan putrinya untuk duduk di sampingnya sembari tangannya menepuk-nepuk kursi di sampingnya. Dan lalu Fatimah pun duduk.
"Ayah sudah menyaksikan sendiri keseriusan nak Alka untuk melamar mu nduk, dan ayah pribadi bersama ibu tidak keberatan dan menerimanya untuk menjadi calon suami mu." Lanjutnya memberi penjelasan tentang apa pendapatnya.
"Tapi biar bagaimanapun juga yang paling berhak menentukan kehidupamu, masa depanmu, dan kebahagiaanmu adalah kamu sendiri nduk." Lanjutnya lagi.
"Ayah kembalikan lagi keputusan akhirnya kepadamu. Dan ayah akan hormati apapun yang kamu putuskan. Ayah yakin kamu sudah besar dan cukup dewasa untuk memilih sendiri mana jalan yang ingin kamu lalui kedepannya." Ucap om Abdullah.
"Kalo aku percaya sama apa keputusan ayah fat." Sambung bang Ahmad kakaknya Fatimah dan juga anak pertama di keluarga itu.
Aku sempat agak kecewa karena aku kira dengan diterimanya lamaranku oleh om Abdullah selaku kepala keluarga, maka diterima juga lamaranku oleh semua keluarganya termasuk Fatimah. Yang juga adalah orang yang aku lamar.
"Nur Fatimah binti Abdullah, bersediakah kau untuk menikah denganku?" Tanyaku padanya dengan nada tegas sebagai bukti bahwa aku benar-benar serius ingin menikahinya.
Lalu Fatimah pun hanya terdiam sambil tertunduk untuk beberapa saat. Dan semuanyapun jadi ikut diam.
"Mungkin dia masih memikirkan Bilal, yang baru saja kembali ke kehidupannya dan masih menunggunya." Pikirku dalam hati.
Karena minggu lalu aku sempat berjumpa Bilal yang juga sudah lulus dan pulang setelah 4th kuliah di Bandung.
Saking lamanya dia terdiam tanpa kata, aku pun mulai kehilangan kepercayaan diri dan sudah siap apabila setelah semua yang aku lakukan pada akhirnya tetap tidak diterima.
Dan memasrahkan semuanya pada Allah sang maha pembolak-balik hati.
Aku juga meyakinkan diriku bahwa apapun jawabannya nanti tidak masalah, karena aku telah berusaha semampuku.
Dan jika ini tidak berhasil, aku berbaik sangka bahwa Allah telah menyiapkan yang lebih baik untuk ku dimasa datang. Dan aku juga percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik perencana.
"Setidaknya aku sudah membuktikan padanya bahwa niatku tidak main-main." Ucapku dalam hati untuk meredam rasa kecewaku yang tidak bisa aku sembunyikan.
"Nur Fatimah binti Abdullah, bersediakah kau untuk menikah denganku?" Tanyaku padanya lagi untuk memastikan bahwa ia disana dan mendengar pertanyaan ku.
"Bismillah. Iya aku mau Al." Jawab Fatimah seraya menganggukkan kepalanya.
Tiba-tiba semua kaget dengan jawaban Fatimah barusan. Dan sontak semua mengucap "Alhamdulillah" sebagai rasa syukur kepada Allah Tuhan semesta alam.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah." Ucapku spontan dengan nada paling keras sambil menitihkan air mata karena terharu. Yang juga membuat seisi rumah itu tertawa.
"Terimakasih ya fat, kamu sudah mau percaya padaku." Ucapku lembut kepada Fatimah seraya aku memandangi wajahnya yang saat itu terlihat sangat cantik di depan ku.
"Sudah-sudah. Jangan lama-lama mandanginya, belum muhrim." Lerai ibuku yang duduk di samping ku sambil tangannya mencubit pinggang ku.
"Iya iya buu. Maaf khilaf." Jawabku sambil meringis karena menahan rasa sakit akibat cubitan ibuku.
Lalu hari ini tepat seminggu yang lalu setelah lamaran ku diterima Fatimah beserta keluarganya akupun diwisuda dan resmi wis udah alias sudah lulus.
Yang mana ini juga merupakan wisuda ku yang paling istimewa karena sebelum pulang dari rumah Fatimah, aku sempat memintanya untuk datang ke acara wisudaku dan ternyata hari ini dia benar-benar datang bersama bang Ahmad.
Dan minggu depan insyaallah aku akan melangsungkan pernikahan dengan Fatimah. Lalu minggu depannya lagi aku akan membawanya ke Bali untuk bersama-sama memulai kehidupan baru di sana insyaallah.
Oiya, setelah selesai acara wisuda aku mengajak Fatimah berbicara sebentar untuk memastikan rasa penasaran ku. Karena tiga hari setelah lamaran ku diterima Fatimah, Bilal datang berkunjung ketumahku sekaligus mengucapkan selamat karena lamaranku telah diterima Fatimah dan sebentar lagi akan menikahinya.
Waktu itu sore, bada Ashar bilal datang kerumahku.
"Assalamualaikum." Ucap Bilal dengan keras.
"Walaikumsalam." Jawabku dari dalam rumah. Sambil membuka pintu.
"Al, apa kabar?" Tanyanya sambil menepuk pundak ku dan mengajak salaman.
"Eh Bialal. Alhamdulillah baik bro. Kamu sendiri gimana?" Balas ku padanya sambil menepuk balik pundaknya.
"Alhamdulillah baik juga bro. Btw selamat ya yang barusan diterima lamarannya ciye." Katanya sambil tertawa kepadaku.
"Wah tau darimana nih, pasti dari Fatimah ya?" Balasku sambil bertanya kepadanya.
"Iya bro. Baru aja kemarin aku main kerumahnya Fatimah. Makanya aku tau haha." Jawabannya sambil tertawa lagi.
"Oh gitu, tumben kamu kerumah Fatimah?" Tanyaku padanya.
"Ciye cemburu ni yee..." Balasannya sambil tertawa lagi.
"Enggak, tapi kan setahu ku kamu kamu gak suka sama Fatimah kan tapi Zahra kan?" Balasku padanya.
"Iya sih. Cuma sebenarnya dulu saat pertama itu aku emang suka sama Fatimah bro, tapi entah kenapa saat mendekati kelulusan aku juga mulai melirik ke Zahra yang terlihat lebih menarik dari Fatimah. Tapi kurang lebih 2 minggu yang lalu aku berjumpa dengan Fatimah lagi dan entah kenapa setelah pertemuan itu aku selalu memikirkannya. Sama seperti dulu saat sebelum aku menyuruhmu untuk mengantar surat ku kepadanya." Jawab Bilal.
"Berarti dulu aku nggak salah orang dong kayak yang dibilang Fatimah?" Balasku.
"Enggak. Memang dia Fatimah yang aku maksud saat itu. Dan bukanya si Zahra. Tapi yang Fatimah bilang kekamu itu emang bener sih. Jadi dulu emang aku ngomong gitu pas ditaman belakang sekolah." Jawabnya.
"Wah aku jadi nggak enak ini bro sama kamu." Balasku.
"Nggak papa bro. Lagian ini emang salahku yang dulu suka pada dua orang wanita, tapi tidak berani menentukan yang mana yang aku harus pilih." Jawabannya.
"Beneran gak papa? Minggu depan kita mau nikah lho..." Balasku sambil tertawa.
"Iya iya yang mau nikah." Balasnya sambil tertawa pula.
"Btw kamu kamu kemarin ngapain kerumahnya Fatimah?" Tanyaku lagi.
"Ya jujur aja sih kemarin aku niatnya mau ngelamar Fatimah, eh malah ditolak karena udah keduluan kamu katanya. Sial emang" Balasannya sambil tertawa.
"Lah si muadzin. Kamu gak ngomong sih sama aku. Kan jadinya ditolak kan. Tapi serius nih gak papa?, Ikhlas melepas Fatimah buat aku?" Tanyaku dengan serius padanya.
"Iya. ikhlas deh. Tapi kamu harus janji ya jagain dia dengan baik. Dan awas aja ya kalo berani nyakitin dia." Balasannya.
"Pasti itu bro. Kamu tenang aja deh." Jawabku.
"Btw kamu kan lulusan psikologi ya, pasti punya banyak saran nih buat aku yang lagi galau pingin nikah juga, tapi bingung sama siapa." Tanyanya kepadaku.
"Gini ya kawan, kalau kamu suka pada dua orang wanita, maka pilihlah yang kedua." Balasku kepadanya.
"Lah kok gitu, kenapa?" Tanyanya lagi dengan muka serius.
"Karena kalo rasamu pada yang pertama kurang besar sehingga yang kedua bisa masuk kehatimu. Atau jika cintamu pada yang pertama sangat besar, maka yang kedua tidak akan hadir dalam pikiranmu." Balasku padanya.
"Iya juga ya. Wah emang asli psikolog kamu Al sekarang. Bisa tau yang kayak gini. Yang gak pernah kepikiran sama aku." Jawabnya sambil memujiku.
"Wo iya dong. Btw Zahra masih free kan?" Tanyaku sambil tertawa.
"Kayaknya sih masih." Balasnya singkat.
"Udah itu aja kejar. Orang kayak kamu mah gampang buat nyari cewek. Tinggal di adzanin juga udah klepek-klepek dia." Balasku sambil tertawa.
"Yee bisa aja ni dokter jiwa." Celetuknya kepadaku sambil tertawa juga.
Singkat cerita kamipun lanjut ngobrol tentang masa lalu dan masa depan. Lalu sesaat sebelum adzan maghrib pun dia pamit pulang.
"Fatimah, kemarin Bilal kerumahmu ya?" Tanyaku pada calon istriku.
"Iya Al. Dia datang ke rumahku untuk melamar ku kemarin. Tapi aku tolak karena aku sudah menerima lamaranmu." Jawabannya memuaskan rasa penasaran ku sekaligus meyakinkan ku bahwa ini adalah wanita yang sama seperti yang aku kagumi dan tidak pernah berubah bagaimanapun keadaannya.
"Terus ngapain lagi?" Tanyaku lagi.
"Udah habis itu dia langsung pulang. Bahkan belum sempat aku buatkan minum." Jawabannya dengan nada agak kesal.
"Maaf ya kalo aku hadir diantara kalian dan memisahkan kalian." Sahutku dengan nada lembut seraya meminta maaf.
"Udah Al, kamu gak salah. Dan aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa memilih mana yang aku rasa terbaik untukku dan sudah memikirkannya secara matang. Memang dulu aku pernah ada rasa pada Bilal, aku tak memungkiri itu. Tapi lambat laun rasa itu semakin memudar. Dan di saat yang sama kamu datang dengan segala persiapan matang mu, kepastian mu dan keseriusan mu. Dan itu yang membuat hatiku akhirnya memilih mu. Jadi kamu gak perlu minta maaf. Karena aku memilih mu dengan hati dan bukan karena paksaan siapapun." Jawabannya dengan senyuman sekaligus meyakinkan ku bahwa dia tidak ada rasa penyesalan sama sekali karena telah memilih ku.
"Sekali lagi terimakasih ya fat, sudah memilihku dan aku berjanji tidak akan mengecewakan mu." Balasku dengan senyum sebagai rasa terimakasih ku kepadanya.
"Iya Al sama-sama. Terimakasih juga sudah berjuang untuk ku. Tapi janjinya nanti saja ya didepan ayahku yang insyaallah akan menjadi wali nikah di pernikahan kita nanti." Balasnya dengan senyum manis.
"Baiklah calon ratuku." Jawabku sambil tertawa kecil kepadanya.
"Udah deh, gak usah gombal. Kita belum sah. Jadi aku masih harus menjaga perasaan ku." Jawabannya sambil tersenyum manis lagi, yang membuat ku semakin bersyukur kepada Allah atas Nikmatnya yang begitu besar.
Lalu setelah itu kamipun pulang.
Mungkin benar adanya bahwa nama adalah doa seumur hidup dari orang tua untuk anaknya. Yah seperti namaku Muhammad Ali Kautsar. Dimana harapan orang tuaku adalah agar aku senantiasa menjadi pengikut Muhammad, yang dipertemukan dengan Fatimah seperti halnya Ali, dan senantiasa mendapat nikmat yang banyak (Kautsar) baik dunia maupun akhirat. Insyaallah.
Selasa, 21 Mei 2019
Bilal dan Fatimah
Fatimah, itulah namaku.
Hujan di bulan November, adalah kali pertama aku bertemu dengannya setelah empat tahun tak berjumpa.
Bilal Al-Ayubbi, nama itu kembali lagi dalam kehidupanku. Setelah ia berhasil mematahkan hatiku ketika SMA.
Bagaimana tidak, dulu dia selalu mengirimkan surat diakhir bulan. Lewat kawan baiknya, Alka.
"Fatimah...!!" sepontan aku menoleh ketika mendengar namaku dipanggil.
"Namamu Fatimah kan?..." tanyanya memastikan.
Aku hanya menganggukan kepala.
"Surat untukmu, dari seseorang yang tempo hari melantunkan adzan di Musholla" jelasnya sambil menyerahkan sepucuk amplop warna biru. Tanpa butuh persetujuan dariku dia pergi begitu saja.
Setibanya dirumah, aku membaca kalimat yang tertulis dalam surat itu.
"Assalamu'alaikum..." kata pembuka yang tertulis dipojok kanan surat.
"Bolehkah aku mengenalmu Fatimah Az-Zahra?...
Aku tidak tahu siapa nama lengkapmu, tapi aku senang memanggilmu begitu.
Aku ingin sekali bertanya dan bercerita banyak hal, tapi aku rasa aku butuh persetujuan darimu."
Sesingkat itu surat darinya, yang kemudian diakhiri dengan salam.
Hatiku bertanya-tanya tentang siapa dia. Seseorang yang katanya tempo hari adzan di sekolah?. Apakah dia bilal, seseorang yang aku kagumi sejak kelas dua SMA. Entah, aku tidak tau. Tapi aku sama sekali tak berniat untuk membalas surat itu.
Sebulan berlalu. Surat darinya kuterima untuk yang ke-2. Masih lewat orang yang sama, Alka murid kelas 12 IPA 4.
Kali ini dia memperkenalkan namanya dalam surat itu.
"Kenapa surat dariku tak dibalas?
Apa kamu merasa terganggu dengan caraku yang seperti ini?"
Namaku Bilal, apa kamu tidak mengenalku?"
"Tentu aku mengenalmu. " bisikku dalam hati.
Kemudian ku baca kalimat yang terakhir.
"Aku suka caramu mengurus organisasi. Ketika hari itu kamu berbicara di depan mimbar. Aku jadi teringat dengan putri Rasulullah, Fatimah Az-Zahra. Lemah lembut dan santun. Karena itu aku memanggilmu Fatimah Az-zahra."
Sungguh aku sama sekali tidak berkedip membaca kalimat terakhir. Bagaimana mungkin dia tau aktivitasku ketika itu, dia kan bukan anggota pers. Apa dia memata-mataiku?...
Dan bagaimana bisa, dia menganggapku santun dan lemah lembut. Hatiku saja rasanya ingin tertawa.
Kali itu aku membalas suratnya, hanya singkat saja.
"Aku tidak tahu harus membalas suratmu dengan kata apa. Aku sama sekali tidak merasa terganggu.
Apa yang ingin kamu tanyakan, tanyakan saja. Jika bisa, aku akan membalasnya"
February, adalah bulan ke tujuh aku menerima surat darinya.
"Fatimah Az-Zahra, mungkin ini kali terakhir kukirimkan surat. Aku hanya ingin bilang, jika aku sudah lama menyukaimu. Mungkin aku mencintaimu. Tapi jangan sibukkan dirimu dengan kalimatku ini. Tetap persiapkan dirimu untuk menghadapi ujian2 semester akhir ini. Dihari kelulusan nanti aku akan menemuimu..."
Jujur saja, hatiku amat senang. Aku jatuh cinta pada seseorang yang aku kagumi yang juga mencintaiku. Ya Allah... Apakah aku salah jika aku mencintai Bilal?...
Apakah caraku ini salah?...
Fatimah Az-Zahra, dia selalu memanggilku begitu. Aku seakan mendapat penggilan spesial, dari namaku yang hanya Nur Fatimah.
Tempo hari buku harianku selalu penuh namanya. Aku tak pernah sekalipun melewatkan suara adzan atau iqomahnya.
Hari itu adalah hari kelulusan.
"Fatimah..." masih dengan orang yang sama. Aku mengenali suara itu. Suara milik Alka.
"Ya?..." jawabku.
"Bisa temui Bilal sebentar?..." tanyanya padaku.
"Apa?..." Padahal aku mendengar jelas kalimatnya. Tapi masih saja kutanyakan.
"Bilal ingin bertemu denganmu, di taman belakang. Sekarang.."
"Tapi..."
"Temui saja. Bisa jadi ini pertemuan terakhir kalian." Alka memotong penjelasanku.
Masih dengan kebiasaannya. Dia pergi tanpa pamit. Dasar..!
Tanpa pikir panjang. Langkahku seakan terseret menuju taman. Menemui sosok jangkung yang yang berdiri membelakangiku.
"Assalamu'alaikum." ucapku ragu.
"Waalaikumsallam." balasnya. Mata kami saling betemu...
"Kamu... Fatimah bukan?" tanyanya menyelidik.
"I-iya.."
"Kelas 12 IPS 1?..."
kali ini kujawab dengan anggukan.
Dia menatap ke langit atas. Diam. Tertunduk sejenak.
"Apa karena Alka kamu datang kemari?...
"Iya, memangnya kenapa?..."
"Apa kamu yang menerima surat-surat ku selama ini?" Tanyanya lagi tanpa menjawab pertanyaannku.
"Iya." jawabku singkat.
Diam. Hanya itu yang kami lakukan. Hingga akhirnya,
"Duduklah..." dia meminta, dan aku menurutinya.
"Maaf... Aku telah salah orang."
"Maksudmu?..." Hatiku rasanya tidak sanggup mendengar kalimat berikutnya.
"Bukan kamu Fatimah Az-Zahra yang aku maksud..." kalimatnya terputus.
"Bukan kamu wanita yang aku cintai selama ini." lanjutnya kemudian.
Ya Allah, rasanya hatiku terbakar. Air mataku jatuh. Tapi berusaha ku sembunyikan. Bibirku hanya bisa tersenyum, seakan aku baik-baik saja.
"Aku tahu namamu Fatimah. Tapi aku tidak berfikir panjang jika Alka akan salah. Maafkan aku Fatimah..."
Aku hanya tertunduk. Menguasai perasaan agar tidak marah. Kemudian aku menatap jernih matanya. Diantara hatiku yang sudah kalut, kutelan rasa pahitnya sendiri.
"Lalu, siapa dia?..." Kuberanikan bertanya. Agar hatiku memiliki alasan untuk menghapusnya.
"Zahra..." jawabnya.
Ya Allah, seharusnya sejak awal aku sudah menyadari itu.
Dia adalah Zahra kelas 12 IPA 1, wanita santun dan berhati lemah lembut. Ketua Rohis, dengan tingkat agama yang sama sekali aku tidak ada apa-apa nya.
"Aku meminta maaf atas semua ini..." Dengan enteng nya dia katakan maaf. Apakah dia tidak berpikir sedikit saja tentang perasaanku.
"Aku tidak bermaksud mempermainkan mu..."
"Fatimah?... Apa kamu menerima maafku?..." Tanyanya dalam diamku.
"Aku maafkan. Aku pergi." Kataku sambil tersenyum. Kemudian aku berlalu tanpa butuh penjelasan darinya lagi.
Air mataku tumpah. Isak tangis ku menjadi. Bagaimana mungkin selama itu aku mencintai orang yang bahkan menganggapku ada saja tidak. Hari terbaikku seakan hancur, mengetahui jika dia mencintai wanita lain.
Sesal dan kecewa menjadi muara terakhir perasaanku berlabuh.
Hatiku hancur.
"Ya Allah inikah teguran dari-Mu?...
Inikah rasanya mencintai makhluk tanpa seizin-Mu?... Inikah hukuman yang pantas untuk hamba?"
Keluhku diantara isak tangis.
Aku mencoba menguasai hati. Berdamai dengan takdir.
"Ya Allah maafkan aku... Maafkan aku... Maafkan aku yang pura-pura tuli saat Engkau menegur."
Kali ini isak tangisku bukan untuk dia. Tapi untuk kesalahanku. Untuk kebodohanku. Untuk rasa maluku terhadap Tuhan.
Beberapa bulan berikutnya. Aku pergi meninggalkan kota. Memulai kisah baruku sebagai mahasiswi.
Mengikhlaskan semua yang sudah terjadi. Menata hidupku kembali.
Empat tahun berlalu, tiba-tiba dia datang kembali.
"Fatimah..." Tetiba suara memecah lamunanku.
"Hei, apa yang kamu lamunkan?..."
Tentu, aku tidak lagi berani menatap matanya seperti dulu. Setelah empat tahun berlalu, aku belajar banyak hal. Meski aku masih jauh dari kata baik.
"Tidak ada." Jawabku tertunduk.
Kami sudah setengah jam terjebak di hujan. Kami hanya terdiam dengan sesekali melempar pertanyaan. Aku takut perasaan itu kembali lagi. Aku takut jatuh cinta lagi pada orang yang sama.
"Bilal, aku harus pergi. Waktuku tidak banyak."
Tanpa pikir panjang aku berlari menerobos hujan. Tidak menghiraukan ketika dia memanggil namaku. Aku tidak sanggp jika harus berlama-lama dengannya. Disamping seseorang yang pernah menghancurkan hatiku.
Dua minggu berlalu semenjak pertemuan itu.
Entah apa yang membuat dia tiba-tiba bertamu kerumahku.
Tentu aku tidak menemuinya sendiri. Ayah menyambutnya dengan baik.
Dari sekian pertanyaan dan pernyataan, sampai pada akhir dia mengatakan sesuatu yang membuat hatiku seperti mati rasa.
"Saya Ingin melamar Fatimah.."
Kalimat itu dia ucapkan tanpa ragu.
Ayah hanya diam. Menatap ke arahku dengan bingung. Aku mencoba menjelaskan keadaan. Berharap tidak ada hati yang kecewa.
"Maaf Bilal. Dua hari yang lalu, teman baikmu Alka telah melamarku..."
Hujan di bulan November, adalah kali pertama aku bertemu dengannya setelah empat tahun tak berjumpa.
Bilal Al-Ayubbi, nama itu kembali lagi dalam kehidupanku. Setelah ia berhasil mematahkan hatiku ketika SMA.
Bagaimana tidak, dulu dia selalu mengirimkan surat diakhir bulan. Lewat kawan baiknya, Alka.
"Fatimah...!!" sepontan aku menoleh ketika mendengar namaku dipanggil.
"Namamu Fatimah kan?..." tanyanya memastikan.
Aku hanya menganggukan kepala.
"Surat untukmu, dari seseorang yang tempo hari melantunkan adzan di Musholla" jelasnya sambil menyerahkan sepucuk amplop warna biru. Tanpa butuh persetujuan dariku dia pergi begitu saja.
Setibanya dirumah, aku membaca kalimat yang tertulis dalam surat itu.
"Assalamu'alaikum..." kata pembuka yang tertulis dipojok kanan surat.
"Bolehkah aku mengenalmu Fatimah Az-Zahra?...
Aku tidak tahu siapa nama lengkapmu, tapi aku senang memanggilmu begitu.
Aku ingin sekali bertanya dan bercerita banyak hal, tapi aku rasa aku butuh persetujuan darimu."
Sesingkat itu surat darinya, yang kemudian diakhiri dengan salam.
Hatiku bertanya-tanya tentang siapa dia. Seseorang yang katanya tempo hari adzan di sekolah?. Apakah dia bilal, seseorang yang aku kagumi sejak kelas dua SMA. Entah, aku tidak tau. Tapi aku sama sekali tak berniat untuk membalas surat itu.
Sebulan berlalu. Surat darinya kuterima untuk yang ke-2. Masih lewat orang yang sama, Alka murid kelas 12 IPA 4.
Kali ini dia memperkenalkan namanya dalam surat itu.
"Kenapa surat dariku tak dibalas?
Apa kamu merasa terganggu dengan caraku yang seperti ini?"
Namaku Bilal, apa kamu tidak mengenalku?"
"Tentu aku mengenalmu. " bisikku dalam hati.
Kemudian ku baca kalimat yang terakhir.
"Aku suka caramu mengurus organisasi. Ketika hari itu kamu berbicara di depan mimbar. Aku jadi teringat dengan putri Rasulullah, Fatimah Az-Zahra. Lemah lembut dan santun. Karena itu aku memanggilmu Fatimah Az-zahra."
Sungguh aku sama sekali tidak berkedip membaca kalimat terakhir. Bagaimana mungkin dia tau aktivitasku ketika itu, dia kan bukan anggota pers. Apa dia memata-mataiku?...
Dan bagaimana bisa, dia menganggapku santun dan lemah lembut. Hatiku saja rasanya ingin tertawa.
Kali itu aku membalas suratnya, hanya singkat saja.
"Aku tidak tahu harus membalas suratmu dengan kata apa. Aku sama sekali tidak merasa terganggu.
Apa yang ingin kamu tanyakan, tanyakan saja. Jika bisa, aku akan membalasnya"
February, adalah bulan ke tujuh aku menerima surat darinya.
"Fatimah Az-Zahra, mungkin ini kali terakhir kukirimkan surat. Aku hanya ingin bilang, jika aku sudah lama menyukaimu. Mungkin aku mencintaimu. Tapi jangan sibukkan dirimu dengan kalimatku ini. Tetap persiapkan dirimu untuk menghadapi ujian2 semester akhir ini. Dihari kelulusan nanti aku akan menemuimu..."
Jujur saja, hatiku amat senang. Aku jatuh cinta pada seseorang yang aku kagumi yang juga mencintaiku. Ya Allah... Apakah aku salah jika aku mencintai Bilal?...
Apakah caraku ini salah?...
Fatimah Az-Zahra, dia selalu memanggilku begitu. Aku seakan mendapat penggilan spesial, dari namaku yang hanya Nur Fatimah.
Tempo hari buku harianku selalu penuh namanya. Aku tak pernah sekalipun melewatkan suara adzan atau iqomahnya.
Hari itu adalah hari kelulusan.
"Fatimah..." masih dengan orang yang sama. Aku mengenali suara itu. Suara milik Alka.
"Ya?..." jawabku.
"Bisa temui Bilal sebentar?..." tanyanya padaku.
"Apa?..." Padahal aku mendengar jelas kalimatnya. Tapi masih saja kutanyakan.
"Bilal ingin bertemu denganmu, di taman belakang. Sekarang.."
"Tapi..."
"Temui saja. Bisa jadi ini pertemuan terakhir kalian." Alka memotong penjelasanku.
Masih dengan kebiasaannya. Dia pergi tanpa pamit. Dasar..!
Tanpa pikir panjang. Langkahku seakan terseret menuju taman. Menemui sosok jangkung yang yang berdiri membelakangiku.
"Assalamu'alaikum." ucapku ragu.
"Waalaikumsallam." balasnya. Mata kami saling betemu...
"Kamu... Fatimah bukan?" tanyanya menyelidik.
"I-iya.."
"Kelas 12 IPS 1?..."
kali ini kujawab dengan anggukan.
Dia menatap ke langit atas. Diam. Tertunduk sejenak.
"Apa karena Alka kamu datang kemari?...
"Iya, memangnya kenapa?..."
"Apa kamu yang menerima surat-surat ku selama ini?" Tanyanya lagi tanpa menjawab pertanyaannku.
"Iya." jawabku singkat.
Diam. Hanya itu yang kami lakukan. Hingga akhirnya,
"Duduklah..." dia meminta, dan aku menurutinya.
"Maaf... Aku telah salah orang."
"Maksudmu?..." Hatiku rasanya tidak sanggup mendengar kalimat berikutnya.
"Bukan kamu Fatimah Az-Zahra yang aku maksud..." kalimatnya terputus.
"Bukan kamu wanita yang aku cintai selama ini." lanjutnya kemudian.
Ya Allah, rasanya hatiku terbakar. Air mataku jatuh. Tapi berusaha ku sembunyikan. Bibirku hanya bisa tersenyum, seakan aku baik-baik saja.
"Aku tahu namamu Fatimah. Tapi aku tidak berfikir panjang jika Alka akan salah. Maafkan aku Fatimah..."
Aku hanya tertunduk. Menguasai perasaan agar tidak marah. Kemudian aku menatap jernih matanya. Diantara hatiku yang sudah kalut, kutelan rasa pahitnya sendiri.
"Lalu, siapa dia?..." Kuberanikan bertanya. Agar hatiku memiliki alasan untuk menghapusnya.
"Zahra..." jawabnya.
Ya Allah, seharusnya sejak awal aku sudah menyadari itu.
Dia adalah Zahra kelas 12 IPA 1, wanita santun dan berhati lemah lembut. Ketua Rohis, dengan tingkat agama yang sama sekali aku tidak ada apa-apa nya.
"Aku meminta maaf atas semua ini..." Dengan enteng nya dia katakan maaf. Apakah dia tidak berpikir sedikit saja tentang perasaanku.
"Aku tidak bermaksud mempermainkan mu..."
"Fatimah?... Apa kamu menerima maafku?..." Tanyanya dalam diamku.
"Aku maafkan. Aku pergi." Kataku sambil tersenyum. Kemudian aku berlalu tanpa butuh penjelasan darinya lagi.
Air mataku tumpah. Isak tangis ku menjadi. Bagaimana mungkin selama itu aku mencintai orang yang bahkan menganggapku ada saja tidak. Hari terbaikku seakan hancur, mengetahui jika dia mencintai wanita lain.
Sesal dan kecewa menjadi muara terakhir perasaanku berlabuh.
Hatiku hancur.
"Ya Allah inikah teguran dari-Mu?...
Inikah rasanya mencintai makhluk tanpa seizin-Mu?... Inikah hukuman yang pantas untuk hamba?"
Keluhku diantara isak tangis.
Aku mencoba menguasai hati. Berdamai dengan takdir.
"Ya Allah maafkan aku... Maafkan aku... Maafkan aku yang pura-pura tuli saat Engkau menegur."
Kali ini isak tangisku bukan untuk dia. Tapi untuk kesalahanku. Untuk kebodohanku. Untuk rasa maluku terhadap Tuhan.
Beberapa bulan berikutnya. Aku pergi meninggalkan kota. Memulai kisah baruku sebagai mahasiswi.
Mengikhlaskan semua yang sudah terjadi. Menata hidupku kembali.
Empat tahun berlalu, tiba-tiba dia datang kembali.
"Fatimah..." Tetiba suara memecah lamunanku.
"Hei, apa yang kamu lamunkan?..."
Tentu, aku tidak lagi berani menatap matanya seperti dulu. Setelah empat tahun berlalu, aku belajar banyak hal. Meski aku masih jauh dari kata baik.
"Tidak ada." Jawabku tertunduk.
Kami sudah setengah jam terjebak di hujan. Kami hanya terdiam dengan sesekali melempar pertanyaan. Aku takut perasaan itu kembali lagi. Aku takut jatuh cinta lagi pada orang yang sama.
"Bilal, aku harus pergi. Waktuku tidak banyak."
Tanpa pikir panjang aku berlari menerobos hujan. Tidak menghiraukan ketika dia memanggil namaku. Aku tidak sanggp jika harus berlama-lama dengannya. Disamping seseorang yang pernah menghancurkan hatiku.
Dua minggu berlalu semenjak pertemuan itu.
Entah apa yang membuat dia tiba-tiba bertamu kerumahku.
Tentu aku tidak menemuinya sendiri. Ayah menyambutnya dengan baik.
Dari sekian pertanyaan dan pernyataan, sampai pada akhir dia mengatakan sesuatu yang membuat hatiku seperti mati rasa.
"Saya Ingin melamar Fatimah.."
Kalimat itu dia ucapkan tanpa ragu.
Ayah hanya diam. Menatap ke arahku dengan bingung. Aku mencoba menjelaskan keadaan. Berharap tidak ada hati yang kecewa.
"Maaf Bilal. Dua hari yang lalu, teman baikmu Alka telah melamarku..."
Langganan:
Komentar (Atom)