Selasa, 21 Mei 2019

Bilal dan Fatimah

Fatimah, itulah namaku.

Hujan di bulan November, adalah kali pertama aku bertemu dengannya setelah empat tahun tak berjumpa.

Bilal Al-Ayubbi, nama itu kembali lagi dalam kehidupanku. Setelah ia berhasil mematahkan hatiku ketika SMA.

Bagaimana tidak, dulu dia selalu mengirimkan surat diakhir bulan. Lewat kawan baiknya, Alka.

"Fatimah...!!" sepontan aku menoleh ketika mendengar namaku dipanggil.
"Namamu Fatimah kan?..." tanyanya memastikan.
Aku hanya menganggukan kepala.
"Surat untukmu, dari seseorang yang tempo hari melantunkan adzan di Musholla" jelasnya sambil menyerahkan sepucuk amplop warna biru. Tanpa butuh persetujuan dariku dia pergi begitu saja.

Setibanya dirumah, aku membaca kalimat yang tertulis dalam surat itu.
"Assalamu'alaikum..." kata pembuka yang tertulis dipojok kanan surat.
"Bolehkah aku mengenalmu Fatimah Az-Zahra?...
Aku tidak tahu siapa nama lengkapmu, tapi aku senang memanggilmu begitu.
Aku ingin sekali bertanya dan bercerita banyak hal, tapi aku rasa aku butuh persetujuan darimu."
Sesingkat itu surat darinya, yang kemudian diakhiri dengan salam.

Hatiku bertanya-tanya tentang siapa dia. Seseorang yang katanya tempo hari adzan di sekolah?. Apakah dia bilal, seseorang yang aku kagumi sejak kelas dua SMA. Entah, aku tidak tau. Tapi aku sama sekali tak berniat untuk membalas surat itu.

Sebulan berlalu. Surat darinya kuterima untuk yang ke-2. Masih lewat orang yang sama, Alka murid kelas 12 IPA 4.
Kali ini dia memperkenalkan namanya dalam surat itu.
"Kenapa surat dariku tak dibalas?
Apa kamu merasa terganggu dengan caraku yang seperti ini?"
Namaku Bilal, apa kamu tidak mengenalku?"
"Tentu aku mengenalmu. " bisikku dalam hati.
Kemudian ku baca kalimat yang terakhir.
"Aku suka caramu mengurus organisasi. Ketika hari itu kamu berbicara di depan mimbar. Aku jadi teringat dengan putri Rasulullah, Fatimah Az-Zahra. Lemah lembut dan santun. Karena itu aku memanggilmu Fatimah Az-zahra."
Sungguh aku sama sekali tidak berkedip membaca kalimat terakhir. Bagaimana mungkin dia tau aktivitasku ketika itu, dia kan bukan anggota pers. Apa dia memata-mataiku?...
Dan bagaimana bisa, dia menganggapku santun dan lemah lembut. Hatiku saja rasanya ingin tertawa.

Kali itu aku membalas suratnya, hanya singkat saja.
"Aku tidak tahu harus membalas suratmu dengan kata apa. Aku sama sekali tidak merasa terganggu.
Apa yang ingin kamu tanyakan, tanyakan saja. Jika bisa, aku akan membalasnya"

February, adalah bulan ke tujuh aku menerima surat darinya.
"Fatimah Az-Zahra, mungkin ini kali terakhir kukirimkan surat. Aku hanya ingin bilang, jika aku sudah lama menyukaimu. Mungkin aku mencintaimu. Tapi jangan sibukkan dirimu dengan kalimatku ini. Tetap persiapkan dirimu untuk menghadapi ujian2 semester akhir ini. Dihari kelulusan nanti aku akan menemuimu..."

Jujur saja, hatiku amat senang. Aku jatuh cinta pada seseorang yang aku kagumi yang juga mencintaiku. Ya Allah... Apakah aku salah jika aku mencintai Bilal?...
Apakah caraku ini salah?...

Fatimah Az-Zahra, dia selalu memanggilku begitu. Aku seakan mendapat penggilan spesial, dari namaku yang hanya Nur Fatimah.
Tempo hari buku harianku selalu penuh namanya. Aku tak pernah sekalipun melewatkan suara adzan atau iqomahnya.

Hari itu adalah hari kelulusan.
"Fatimah..." masih dengan orang yang sama. Aku mengenali suara itu. Suara milik Alka.
"Ya?..." jawabku.
"Bisa temui Bilal sebentar?..." tanyanya padaku.
"Apa?..." Padahal aku mendengar jelas kalimatnya. Tapi masih saja kutanyakan.
"Bilal ingin bertemu denganmu, di taman belakang. Sekarang.."
"Tapi..."
"Temui saja. Bisa jadi ini pertemuan terakhir kalian." Alka memotong penjelasanku.
Masih dengan kebiasaannya. Dia pergi tanpa pamit. Dasar..!

Tanpa pikir panjang. Langkahku seakan terseret menuju taman. Menemui sosok jangkung yang yang berdiri membelakangiku.
"Assalamu'alaikum." ucapku ragu.
"Waalaikumsallam." balasnya. Mata kami saling betemu...
"Kamu... Fatimah bukan?" tanyanya menyelidik.
"I-iya.."
"Kelas 12 IPS 1?..."
kali ini kujawab dengan anggukan.
Dia menatap ke langit atas. Diam. Tertunduk sejenak.
"Apa karena Alka kamu datang kemari?...
"Iya, memangnya kenapa?..."
"Apa kamu yang menerima surat-surat ku selama ini?" Tanyanya lagi tanpa menjawab pertanyaannku.
"Iya." jawabku singkat.
Diam. Hanya itu yang kami lakukan. Hingga akhirnya,
"Duduklah..." dia meminta, dan aku menurutinya.
"Maaf... Aku telah salah orang."
"Maksudmu?..." Hatiku rasanya tidak sanggup mendengar kalimat berikutnya.
"Bukan kamu Fatimah Az-Zahra yang aku maksud..." kalimatnya terputus.
"Bukan kamu wanita yang aku cintai selama ini." lanjutnya kemudian.
Ya Allah, rasanya hatiku terbakar. Air mataku jatuh. Tapi berusaha ku sembunyikan. Bibirku hanya bisa tersenyum, seakan aku baik-baik saja.
"Aku tahu namamu Fatimah. Tapi aku tidak berfikir panjang jika Alka akan salah. Maafkan aku Fatimah..."
Aku hanya tertunduk. Menguasai perasaan agar tidak marah. Kemudian aku menatap jernih matanya. Diantara hatiku yang sudah kalut, kutelan rasa pahitnya sendiri.
"Lalu, siapa dia?..." Kuberanikan bertanya. Agar hatiku memiliki alasan untuk menghapusnya.
"Zahra..." jawabnya.
Ya Allah, seharusnya sejak awal aku sudah menyadari itu.
Dia adalah Zahra kelas 12 IPA 1, wanita santun dan berhati lemah lembut. Ketua Rohis, dengan tingkat agama yang sama sekali aku tidak ada apa-apa nya.
"Aku meminta maaf atas semua ini..." Dengan enteng nya dia katakan maaf. Apakah dia tidak berpikir sedikit saja tentang perasaanku.
"Aku tidak bermaksud mempermainkan mu..."
"Fatimah?... Apa kamu menerima maafku?..." Tanyanya dalam diamku.
"Aku maafkan. Aku pergi." Kataku sambil tersenyum. Kemudian aku berlalu tanpa butuh penjelasan darinya lagi.

Air mataku tumpah. Isak tangis ku menjadi. Bagaimana mungkin selama itu aku mencintai orang yang bahkan menganggapku ada saja tidak. Hari terbaikku seakan hancur, mengetahui jika dia mencintai wanita lain.

Sesal dan kecewa menjadi muara terakhir perasaanku berlabuh.
Hatiku hancur.
"Ya Allah inikah teguran dari-Mu?...
Inikah rasanya mencintai makhluk tanpa seizin-Mu?... Inikah hukuman yang pantas untuk hamba?"
Keluhku diantara isak tangis.
Aku mencoba menguasai hati. Berdamai dengan takdir.
"Ya Allah maafkan aku... Maafkan aku... Maafkan aku yang pura-pura tuli saat Engkau menegur."
Kali ini isak tangisku bukan untuk dia. Tapi untuk kesalahanku. Untuk kebodohanku. Untuk rasa maluku terhadap Tuhan.

Beberapa bulan berikutnya. Aku pergi meninggalkan kota. Memulai kisah baruku sebagai mahasiswi.
Mengikhlaskan semua yang sudah terjadi. Menata hidupku kembali.

Empat tahun berlalu, tiba-tiba dia datang kembali.

"Fatimah..." Tetiba suara memecah lamunanku.
"Hei, apa yang kamu lamunkan?..."
Tentu, aku tidak lagi berani menatap matanya seperti dulu. Setelah empat tahun berlalu, aku belajar banyak hal. Meski aku masih jauh dari kata baik.
"Tidak ada." Jawabku tertunduk.
Kami sudah setengah jam terjebak di hujan. Kami hanya terdiam dengan sesekali melempar pertanyaan. Aku takut perasaan itu kembali lagi. Aku takut jatuh cinta lagi pada orang yang sama.
"Bilal, aku harus pergi. Waktuku tidak banyak."
Tanpa pikir panjang aku berlari menerobos hujan. Tidak menghiraukan ketika dia memanggil namaku. Aku tidak sanggp jika harus berlama-lama dengannya. Disamping seseorang yang pernah menghancurkan hatiku.

Dua minggu berlalu semenjak pertemuan itu.
Entah apa yang membuat dia tiba-tiba bertamu kerumahku.
Tentu aku tidak menemuinya sendiri. Ayah menyambutnya dengan baik.
Dari sekian pertanyaan dan pernyataan, sampai pada akhir dia mengatakan sesuatu yang membuat hatiku seperti mati rasa.
"Saya Ingin melamar Fatimah.."
Kalimat itu dia ucapkan tanpa ragu.
Ayah hanya diam. Menatap ke arahku dengan bingung. Aku mencoba menjelaskan keadaan. Berharap tidak ada hati yang kecewa.
"Maaf Bilal. Dua hari yang lalu, teman baikmu Alka telah melamarku..."



Tidak ada komentar:

Posting Komentar