Malam ini Bilal tidak bisa tidur. Pikirannya tidak mau diajak berdamai. Setiap detik, menit, jam berlalu tapi tetap saja dia tidak bisa memejamkan matanya.
Ingatan-ingatan tentang masa lalunya yang indah dengan Fatimah cinta pertamanya, tentang bagaimana dia dulu menulis surat-suratnya dengan penuh rasa cinta untuknya, tentang pertemuannya beberapa saat yang lalu dengan orang yang sama yang menerima surat-suratnya dulu sewaktu SMA, hingga tentang bagaimana lamarannya ditolak oleh orang yang sama yang dulu dia tahu bahwa orang itu juga mempunyai perasaan yang sama seperti rasanya padanya.
Padahal besok tepat jam 8 pagi dia diminta untuk menjadi saksi di akad nikah sahabatnya dengan orang yang dicintainya.
Tapi tetap saja dia tidak bisa tidur.
Semakin dia berusaha untuk melupakannya, semakin jelas pula ingatannya muncul.
Terutama ingatan tentang dirinya yang dulu penuh dengan keraguan yang membuatnya teramat sangat menyesal saat ini.
Ingatan tentang bagaimana dia tidak berani menentukan kepada siapa dia akan menambatkan hatinya.
Fatimah atau Zahra, kedua orang itu sama-sama menarik dimatanya. Sehingga yang awalnya dia yakin kepada Fatimah, akhirnya diapun melukainya dan tidak berani jujur kepadanya. Sedang di sisi lain dia juga tidak berani mengutarakan perasaannya kepada Zahra seperti yang telah dia lakukannya kepada Fatimah.
Setelah 4 tahun berpisah dengan Fatimah dan menjalani kuliah di satu kampus yang sama dengan Zahra ternyata dia baru sadar bahwa perasaannya kepada Zahra selama ini berbeda dengan perasaannya kepada Fatimah. Yang dia rasakan kepada Zahra ternyata hanya sebatas rasa suka dan kekaguman semata, tidak lebih. Sementara yang dia rasakan kepada Fatimah ternyata lebih dari itu, dia benar-benar mencintainya.
Namun itu semua sudah terlambat. Besok sahabat baiknya akan mengikat janji suci kepada Fatimah, orang yang dicintainya.
"Lepaskan, maka semoga yang lebih baik akan datang. Ikhlaskan, maka semoga suasana hati akan lebih ringan." Katanya berulang kali bergumam sendiri dalam kesepian malam itu.
Namun tetap saja dia tidak bisa berdamai dengan hati dan pikirannya. Rasa sesalnya terlalu besar sehingga membuatnya sulit untuk memaafkan dirinya sendiri.
"Kamu masih percaya cinta dalam diam untuk dia, sementara diam-diam dia sudah merencanakan pernikahan bukan dengan mu?" Seketika dia bertanya kepada dirinya sendiri dan membuatnya semakin tidak bisa untuk memejamkan mata.
Penyesalannya semakin menjadi karena dulu sebenarnya dia tau bahwa disaat pertemuannya dengan Fatimah untuk yang terakhir kali sebelum mereka melanjutkan kehidupan sebagai mahasiswa. Dia melihat kekecewaan yang sangat besar diwajah Fatimah sesaat setelah mendengar kata-katanya. Karena bukan omelan atau kemarahan yang diterimanya saat itu dari Fatimah, melainkan senyum kecil yang mengiringi kepergiannya.
Ya, saat itu sebenarnya dia tau bahwa perasaan Fatimah kepadanya sudah tidak mungkin sama lagi seperti yang sebelumnya. Dan dia juga tau bahwa apa yang dilakukannya itu sama saja membuang Fatimah dari hatinya. Dan dia menyesal kenapa dulu harus berkata seperti itu kepada Fatimah.
Hingga waktu menunjukkan pukul 1 dini hari akhirnya dia memutuskan untuk mengambil wudhu dan melaksanakan sholat tahajud agar hati dan pikirannya lebih tenang.
Setelah sholat tahajjud dia menutupnya dengan 3 rakaat sholat witir. Dan tepat di rakaat terakhir saat sujud tiba-tiba dia menangis. Dia teringat akan perkataan Imam Syafi'i,
"Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atasmu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap kepada selain-Nya."
Dalam sujud terakhir nya yang sangat lama dia bertanya-tanya apakah ini tandanya Allah cemburu padaku yang terlalu berharap kepada makhluk Nya?
Lalu diapun meminta maaf kepada Allah sambil menangis di sepertiga malam terakhir itu. Dan setelah itu akhirnya dia bisa tidur.
Baru sebentar tidur, adzan subuh sudah terdengar. Bilalpun bangun dan bergegas menuju ke masjid untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid.
Biasanya dia yang paling awal sampai di masjid dan lalu mengumandangkan adzan untuk membangunkan orang lain. Tapi apa boleh buat, semalam dia tidak bisa tidur sehingga membuatnya kesiangan dan harus dibangunkan oleh orang lain.
Biasanya juga setelah sholat subuh Bilal tidak tidur lagi. Entah ada saja aktivitas yang dia kerjakan. Akan tetapi pagi ini dia ingin kembali tidur lagi. Setidaknya dengan tidur dia bisa sejenak melupakan kekecewaannya. Dan bangun dengan suasana hati yang lebih baik. Begitu pikirnya.
Tepat jam 7 pagi dia bangun setelah mendengar suara alarm dari jam weker nya. Setelah itu dia mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah Fatimah, tempat dimana akad akan dilaksanakan.
Namun sebelum ke rumah Fatimah, Bilal menulis surat kepada Fatimah dan mungkin ini adalah surat terakhir untuknya.
"Kepada : Fatimah,
Assalamualaikum Fat. Ini aku Bilal. Orang yang sama yang dulu sering mengirim surat kepada mu saat masih SMA.
Kali ini sengaja aku tulis Fatimah saja, bukan Fatimah Az-Zahra seperti biasanya dulu. Agar kamu tidak salah sangka dan menganggap bahwa ini adalah untuk Zahra. Tapi tetap aku akan menitipkan ini kepada Alka, sama seperti dulu.
Disini aku hanya ingin mengucapkan selamat atas pernikahan mu dengan Alka, semoga Allah selalu merahmati kalian dengan kebaikannya. Karena aku tau Alka mencintaimu karena Allah dan mungkin karenanya juga Allah pun menghadiahkan kamu untuknya.
Juga terimakasih ku untuk mu atas kesempatan yang kau berikan padaku untuk mencintaimu dan juga merasakan cinta darimu.
Alka beruntung bisa mendapatkan mu, dan kamu pun beruntung dipilih olehnya. Yang ku tau Alka adalah orang yang baik, yang menghormati dan memperlakukan orang lain sebagaimana dia ingin diperlakukan.
Dan dia juga orang yang teguh, yang tidak pernah bermain-main soal perasaannya kepada orang lain.
Dia memang terlihat pendiam dan pemalu, tapi percayalah sebenarnya dia orang yang asik dan lumayan cerewet. Hanya saja dia pandai menyembunyikannya dan tidak memperhatikannya kepada sembarang orang.
Oiya, mungkin mulai saat ini aku hanya akan mencintaimu dalam diam, dan berharap bisa menemukan sosokmu di wanita lain nanti. Dan mungkin juga ini adalah surat terakhir dariku untukmu. Jadi tidak usah dibalas.
Sekali lagi selamat menempuh hidup baru semoga Allah selalu bersama kalian.
Aku pamit, wassalamu'alaikum.wr.wb.
Bilal Al Ayyubi."
Setelah selesai menulis surat Bilal pun berangkat ke rumah Fatimah.
Sesampainya di sana dia pun disambut dengan senyuman oleh Alka sahabat baiknya.
Lalu dia duduk sambil mendengarkan kanji suci yang diucapkan sahabatnya kepada orang yang dicintainya.
Dan ketika dia mendengar sahabatnya mengucapkan "Saya terima nikah dan kawinnya Nur Fatimah binti Abdullah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Hatinya bagaikan hancur berkeping-keping dan tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca. Dia juga hanya terdiam tidak bisa berkata-kata saat yang lainnya mengucapkan kata "sah." Seolah dia ingin menolaknya, tapi apa daya nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi.
"Mungkin ini memang yang terbaik untukku, mungkin ini adalah teguran dari sang pencipta karena cintaku kepada mahkluk Nya melebihi cintaku kepada Nya.
Mungkin juga ini balasan yang ku terima atas diriku yang tidak berani mengambil keputusan dan penuh dengan keraguan selama ini." Katanya kepada dirinya sendiri yang mencoba untuk menenangkan hatinya yang sedang menangis.
Acara pun telah selesai. Saat yang lain pamit pulang Bilal pun ikut pamit bersama mereka.
"Hey mau kemana sih, buru-buru amat? Ngobrol dulu bentar sini." Jawab Alka saat Bilal pamit kepadanya.
"Em, sebenarnya aku masih ada urusan Al, jadi maaf, aku gak bisa lama-lama disini." Balas Bilal.
"Oh gitu, baiklah. Hati-hati ya diperjalanan, salam untuk om dan tante dirumah. Dan terimakasih sudah mau menghadiri undangan ku." Jawab Al mendengar alasan Bilal.
"Siap bro insyaallah disampaikan salamnya. Oiya jaga Fatimah baik-baik ya. Awas kalau sampai kamu bikin dia nangis." Balas Bilal.
"Insyaallah. Mohon doanya ya bro, agar aku bisa menjaganya dengan baik. Dan aku doakan semoga kamu juga segera mendapat istri, biar cepet nyusul aku." Jawab Alka.
"Insyaallah aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian. Dan aamiin, terimakasih untuk doa mu bro." Balas Bilal.
"Oiya, satu pesan ku untukmu. Tugas berat seorang suami bukan mencari nafkah untuk istri dan anaknya, tetapi untuk menyelamatkan mereka dari azab api neraka. Dan seorang suami tidak akan masuk surga sebelum ditanya tentang kepemimpinannya dalam rumah tangga." Lanjut Bilal memberi nasehat kepada sahabatnya.
"Siap bro. Insyaallah aku akan berusaha semampuku untuk menjauhkan istri dan calon anakku kelak dari api neraka. Dan terimakasih sudah mengingatkan." Jawab Alka.
"Sama-sama bro. Oiya hampir lupa, ini ada pesan terakhir ku untuk Fatimah. Kali ini kamu boleh membacanya karena kamu sudah sah jadi suaminya. Yasudah, aku pamit ya. Jaga diri baik-baik. Wassalamualaikum." Balas Bilal seraya menyerahkan sepucuk surat kepada Alka.
"Insyaallah bro nanti aku sampaikan pesan mu. Wa'alaikum salam." Jawab Alka.
Lalu Bilal pun pulang dengan rasa kecewanya yang belum hilang sepenuhnya.
"Yah setidaknya Fatimah mendapat suami yang baik. Jadi aku bisa sedikit lebih tenang. Dan semoga Allah segera mempertemukan aku dengan pengganti Fatimah, agar aku juga bisa segera berdamai dengan hatiku serta pikiranku." Gumamnya dalam hati berusaha untuk menenangkan pikirannya, sambil dia melangkah untuk pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar