Senin, 10 Juni 2019

Cinta dalam diam *selingan

~Kalau kau mencintai seseorang yang belum halal untukmu, cukup serahkan hatimu kepadaNya dan biarlah Dia menyelesaikan kisah cintamu dengan tanganNYA. Rindumu harus kamu bungkam dengan doamu, cintamu harus kamu tahan dengan diammu.~
 

    Dilia baru menyelesaikan shalat ashar saat Fajar masuk kedalam kamarnya, tanpa dipersilahkan Fajar duduk di pinggiran ranjangnya.

“Sini Lia, duduk disamping kakak!” Fajar menepuk bagian kosong di sampingnya.
Dilia menurut, masih dengan menggunakan mukena dia duduk di samping Fajar.
“Ada apa kak?” tanya Dilia saat dia telah duduk disamping Fajar.
“Adhim....” Fajar tidak melanjutkan ucapannya, dia menatap adiknya dengan tatapan intens.
“Ada apa dengan Kak Adhim?” tanya Dilia penasaran.
“Adhim berniat untuk mengkhitbah kamu”.

Dilia menatap kakaknya dengan pandangan tidak percaya, “jangan bercanda kak,” dia sudah hampir berdiri dari pinggiran tempat tidur, namun urung saat fajar meraih tangannya.

“kakak tidak bercanda Lia. Adhim benar-benar berniat untuk mengkhitbahmu. InsyaAllah malam ini dia akan datang kerumah untuk menemui papa dan mama, kakak memberitahumu agar kamu bisa mempersiapkan diri”

Dilia hanya diam, tidak mampu mengucapkan sepatah katapun.

    Andai saja yang hendak mengkhitbahnya bukanlah sahabat baik kakaknya, dia pasti akan mudah untuk mengatakan tidak, sama hal dengan apa yang selalu dia katakan kepada lelaki yang hendak mengkhitbahnya.

“kakak sudah mengatakan hal ini juga pada mama dan papa. Mereka menyimpan harapan yang besar pada Adhim. Dia lelaki yang baik agamanya dan InsyaAllah dia akan menjadi imam yang baik untuk kamu bila kalian berdua berjodoh,” Fajar berucap sangat lembut.

“kakak harap kamu berhenti menunggu seseorang yang pada kenyataannya tidak pernah menyuruhmu untuk menunggu.”

    Dilia menarik nafas dalam-dalam. Tidak tahu kenapa rasa sesak menyergap hatinya.

~Ya Allah... aku tidak tahu apakah pesonanya yang mengikat atau mungkin akalku yang tidak lagi di tempat hingga aku rela untuk terus menunggunya tanpa sebuah kepastian. Jangan biarkan aku melampaui batas sehingga aku melupakan cintaku pada-Mu dan Rasul-Mu.~



(8 tahun yang lalu....)

    Dilia memperhatikan setiap tetes air hujan. Hujan turun semakin deras hingga membuat dia tidak bisa kembali ke kelas. Kalau nekat menerobos hujan bisa-bisa seragamnya basah. Tapi bila beberapa menit hujan tidak kunjung reda mau tidak mau dia harus menerobos hujan, sebab beberapa menit lagi pelajaran sejarah akan dimulai.
    Dilia sudah hendak menerobos hujan saat lima menit lagi menjelang bel tanda pelajaran ketiga dimulai. Namun urung saat melihat Alka yang berjalan ke arahnya menggunakan payung bermotif bunga-bunga. Sepertinya itu payung milik Lely (teman sebangku Dilia).
Alka benar-benar terlihat lucu dengan payung bunga-bunga itu.

“kebiasaan. Udah tau musim hujan. Kenapa nggak bawa payung?” gerutu Alka seraya menyerahkan payung lipat yang ada di tangan kirinya kepada Dilia.
“Aku kirain nggak akan hujan,” Dilia menggambil payng yang Alka sodorkan, lantas mencoba menggembangkan payung itu. “Macet, Al. Payungnya nggak bisa dibuka.”

Alka naik ke teras masjid. Menaruh payung ke sampingnya, “Coba sini,” Alka berusaha membuka payung itu, namun hasilnya sia-sia. Payung itu benar-benar macet.

"Gile gue dikerjain. Pasti si Wawan sengaja ngasih gue pinjem payung rusak. Payung yang suka dipake dia buat modusin cewek biar bisa sepayung berdua." Gerutu Alka dalam hati. Merutuki kebodohannya yang terlalu mudah percaya sama Wawan.

Bel mulai berbunyai. Menandakan pelajaran selanjutnya akan segera dimulai.

“Al udah bel. Mana pelajaran Bu Titik. Bisa kenak amuk kita kalau telat masuk kelas,” wajah Dilia sudah terlihat panik. Apalagi hujan turun semakin deras. Makinlah dia panik.
“Yaudah kamu pake aja payung ini.”
“Terus nanti kamu pake payung yang mana. Yang itu kan rusak?” Dilia menunjuk payung yang ada di tangan Alka.
“Udah nggak usah mikirin aku. Sana cepet ke kelas. Kalau kita berdua telat bisa-bisa nimbulin gosip baru. Kamu nggak mau kan kita digosipin yang aneh-aneh.”

    Dilia akhirnya menuruti perintah Alka. Dia memakai payung melewati setiap tetesan air hujan untuk menuju gedung sekolah.
Alka sendiri sudah siap berlari menerobos hujan saat yakin kalau Dilia sudah sampai di kelas,
“Bodo ah, demi Lia gue rela hujan-hujanan kaya orang bego,” gumam Alka sebelum berlari dari masjid menuju gedung sekolah.

    Beberapa anak yang masih belum masuk ke kelas memperhatikan apa yang terjadi di teras masjid. Apa yang dilakukan Alka pada Dilia sangat sweet.

    Mengantarkan payung untuk Dilia, namun sayang payung yang dia bawa ternyata rusak hingga membuat Alka menyerahkan payung yang dia pakai pada Dilia dan membiarkan dirinya kehujanan. Itu lebih terlihat romantis dibandingkan dengan sepayung berdua.
Begitulah cara Alka mencintai Dilia, tak perlu banyak kata tapi dia selalu ada.

~Ingatlah, bagian terbaik dari cinta adalah perasaan itu sendiri. Bahagia, sedih, kesal, cemburu, kecewa dan marah akan menjadi perpaduan yang indah dan menarik di saat rasa itu dapat terjaga kesuciannya.~

~Meski tidak ada yang tahu tapi Allah pasti tahu karena tidak ada yang dapat disembunyikan dari Allah meskipun hanya bisikkan yang terbesit di dalam hati.~

    Dilia mulai menyadari bahwa dalam hatinya telah tumbuh perasaan yang sama sekali belum pernah dia rasakan. Cinta? Iya, itulah yang Dilia rasakan terhadap Alka. Rasa yang seharusnya tak pantas ada. Dan tak pantas dia miliki di usianya yang baru menginjak 17 tahun.

Saat itu Dilia berencana untuk menjaga jarak dari Alka.

“Gimana, Li. Besok maukan bawain aku makanan lagi?”
“Al jangan ganggu aku. Apa kamu nggak liat aku lagi belajar?”

    Alka diam sejenak seraya memperhatikan apa yang tengah Dilia tulis, “Tumben kamu  nggak minta bantuanku buat belajar matematika? Kamu bener-bener lagi ngehindarin aku?”

“Nggak usah peduliin aku.” Ya, itulah kalimat yang dua minggu lalu Dilia katakan pada Alka, dan
sungguh demi apapun dia tidak menyangka kalau kalimat sederhana itu dapat membuat hati terasa sakit.

    Semenjak hari itu Alka tak lagi seperti biasa, dia lebih terlihat dingin. Dia pun berusaha menghargai apa yang menjadi keinginan Dilia. Tapi apa yang terjadi? Dilia merasa bersalah telah melukai hati yang tak sepantasnya dilukai.

    Kini Alka berdiri di depan ring basket, memantulkan bola berkali-kali ke lantai dan memasukannya ke ring berkali-kali pula. Tanpa mempedulikan air hujan yang mulai membasahi tubuhnya, Dilia berjalan ke arah Alka. Dia berdiri tepat didepan Alka. Kepalanya menunduk dalam,
“Maafin aku, Al. Maafin aku kalau aku pernah bikin kamu sakit hati.”

“Aku cinta kamu, Dilia.” sahut Alka.

Deg... tubuh Dilia otomatis mundur beberapa langkah. Matanya mengerjap bingung. Apa yang barusan dia dengar?
Alka mencintainya?
Dia mengatakan kata maaf, namun kenapa Alka malah membalasnya dengan kata cinta.

                                       
Sabtu, 21 Agustus  2010
"Assalamu’alaikum.
Apa kabar? Semoga baik-baik saja.
Aku ingat, kamu pernah bilang bahwa hujan adalah salah satu hal yang paling kamu suka, dan hari ini aku menulisnya bersama hujan. Deras sekali rintiknya.
Apa kau ingin tahu apa yang kupinta pada-Nya di kala hujan turun?
Aku meminta pada-Nya agar melabuhkan cintaku pada seseorang yang melabuhkan cinta pada-Nya, agar bertambahlah rasa cintaku kepada-Nya.
Dan jika aku jatuh cinta, aku berharap dia yang kucintai dapat menjaga cintaku, agar cinta yang kumiliki untuk dia yang kucintai tidak melebihi cintaku pada-Nya.
Aku tidak tahu akan seperti apa akhir kisah cerita kita.
Hanya sampai disini,
Atau akan ada kisah lain yang akan kita lewati bersama,
Selamat tinggal Dilia,
Sahabat terbaiku yang telah mengajarkanku apa artinya mencintai Dzat yang telah menciptakan aku dan kamu."
Alka A. Andrean

    Setetes air mata membasahi surat dari Alka yang masih ada di tangan Dilia. Sebuah surat perpisahan dari seseorang yang dia cintai dalam diam.
Dilia tak pernah tau, apa yang membuat keluarga Alka memutuskan untuk pindah ke Jerman, semua itu terjadi begitu saja dan secara tiba-tiba.

~Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah akan timpahkan kepadanya pedihnya sebuah pengharapan. Supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkataan tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya~ Imam Syafi’i

    Kepergian Alka bukan tanpa alasan, mamanya sakit parah dan keinginan mamanya disaat itu adalah menghabiskan sisa hidupnya bersama keluarga besarnya di Jerman. Mau tak mau keluarga besar Andrean pun memutuskan untuk menetap di sana. Setahun setelahnya kabar duka menyelimuti keluarga Alka, mama Alka meninggal dunia. Penyebab kematian Ny. Andrean dikarenakan terjadinya pelebaran abnormal pembuluh darah di otak.
    Tidak selesai disitu, tahun-tahun yang menyakitkan mulai dirasakan oleh Alka. Empat tahun setelahnya papanya mengalami serangan jantung karena mendapatkan kabar kalau Kevin (kakak Alka) ditemukan tidak bernyawa di apartemen milik temannya karena overdosis obat-obatan terlarang.            Saat itu benar-benar menjadi masa yang sulit bagi Alka, hingga tidak ada waktu baginya untuk memikirkan hal lain kecuali pendidikan dan kehidupan keluarganya yang jauh sekali dari kata baik.
    Belum reda duka karena kepergian mama dan Kevin, satu tahun kemudian pun papanya tutup usia. Kini yang bertahan dan Allah berikan kesempatan untuk tetap bernafas hanyalah dia dan Novita (kakak perempuan Alka).
    Sebisa mungkin dia dan Novita saling memberikan support. Meyakinkan pada diri masing-masing kalau duka yang menimpa keluarganya akan segera sirna.
Hari demi hari berlalu, menjadi minggu, minggu berkumpul menjadi bulan dan bulan bersatu menjadi tahun. Alka dan Novita mulai dapat menjalani hari-hari seperti sebagaimana mestinya.
    Alka mulai dapat fokus pada pendidikan dan pekerjaan paruh waktunya di kantor milik pamannya. dia bertekad untuk segera kembali ke tanah air setelah pendidikannya selesai, dia akan langsung melamar Dilia.

Namun rencana tetaplah rencana, Allah yang memiliki wewenang sepenuhnya aras rencana yang sudah dia rangkai.

Sehari setelah kepulangannye ke tanah air, Alka mendengar kabar bahwa Dilia telah dikhitbah oleh laki-laki lain.

"Selama ini aku merasa jika belum saatnya menjadikanmu sebagai pendamping. Aku berfikir, mungkin Allah masih meminta diriku untuk memperbaiki diri agar pantas bersanding di sampingmu. Tapi ternyata Allah menginginkan takdir lain. Maafkan aku yang terlambat." penyesalan Alka dalam hati.


“Lia, apa kamu sudah shalat istikharah?” tanya mama.
“udah ma, dua hari yang lalu. Tapi Lia masih bingung. Apakah Lia harus menerima lamaran Kak Adhim dan berhenti menunggu Alka atau sebaliknya. Lia tidak tau ma.”

Mama Dilia membelai pucuk kepala Dilia, “mama tidak bisa memberi jawaban apapun. Yang bisa menjawab pertanyaanmu adalah hatimu sendiri. Anak mama sudah dewasa dan mama percaya kamu pasti mampu menentukan pilihan yang terbaik untuk diri Lia sendiri. Satu pesan mama, selalu libatkan Allah dalam pilihanmu.”

“Bolehkah Dilia menyerahkan pilihan ini pada mama dan papa?”
“maksud kamu?”

“Bila mama dan papa menerima lamaran Kak Adhim. InsyaaAllah Dilia pun akan menerima lamaran Kak Adhim. Lia tidak bisa menentukannya sendiri...”

“Benarkah? Kamu yakin mau menyerahkan keputusan ini pada mama dan papa?”

Dilia mengangguk, “Dilia yakin pilihan mama dan papa untuk Dilia tidak akan keliru.”

    Ya Allah... dia telah datang.
Dia yang selalu kusebut namanya secara terang-terangan di hadapan-Mu telah datang untuk menyapaku, namun kenapa dia datang disaat aku telah terikat. Kenapa?
Aku mohon bila memang aku dan dia tak berjodoh, lindungilah hatiku dan hatinya dari rasa sakit. Dan semoga Kau memberikan keikhlasan pada kami untuk menerima semuanya.

“Kapan nak Alka kembali dari Berlin?” pertanyaan pembukaan dari papa Dilia.

“Kemarin sore Om,” Alka tidak menyengka kalau dia akan merasa segugup ini, padahal ini bukan pertemuan pertamanya dengan papanya Dilia.

“Kalau boleh tahu di Berlin nak Alka kuliah dimana terus ngambil jurusan apa?”

“Freie Unuiversitaet Berlin, jurusan Manajemen Bisnis.”

“Apa nak Alka akan kembali menetap disini?”

Alka mengangguk.

    Di dapur, tepatnya di kursi meja makan Dilia duduk manis. Dari tempatnya duduk dia bisa mendengar apa saja yang dibicarakan oleh papa, mama, Fajar dan Alka.
Aneh? Kenapa papanya mengajukan banyak pertanyaan pada Alka? Alka kan datang hanya untuk silaturahmi. Tidak mungkin kalau Alka tidak tahu hukum yang menyatakan bahwa seorang lelaki muslim dilarang melamar muslimah yang sudah dilamar oleh lelaki lain.
Atau jangan-jangan papa dan mamanya sudah membatalkan lamarannya dengan Adhim?

    Pertanyaan terus saja merasuk ke dalam kepala Dilia, hingga dia tidak sadar kalau namanya dipanggil oleh mamanya.

    Dilia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan sebelum melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.

    Hening, tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun dan hal itu membuat Dilia kebingungan.
Hingga akhirnya suara Alka memecahkan keheningan yang sudah tercipta.
“Dilia maukah kamu menjadi istriku?”

Dilia tidak mampu menyembunyikan kererkejutannya. Matanya mengerjap bingung.
Alka melamarnya?
Alka melamarnya?
Kenapa Alka melamarnya di atas lamaran Adhim? Bukankah itu tidak boleh?

~Jadilah lelaki yang tidak menyatakan banyak janji, tidak pula memberi harapan yang tak pasti, dan jadilah lelaki sejati yang hanya akan mengatakan kata cinta kepada satu wanita~

Dilia diam, tidak kunjung memberikan jawaban. Membuat Fajar dan kedua orangtuanya menatap bingung ke arahnya,sedangkan Alka sendiri berusaha untu menetralkan detak jantungnya.

“Bagaimana Dilia? Apa kamu mau menjadi istriku?” Alka akhirnya memiliki keberanian untuk mengulangi pertanyaannya. Sungguh demi apapun ini sangat menegangkan.

“aku bingung,” Dilia berucap gemetar.

Mama Dilia membelai bahu putrinya, “Apa yang membuatmu bingung?” tanyanya lembut.

“Aku bingung kenapa mama dan papa membiarkan Alka melamarku disaat mama dan papa sudah menerima lamaran Kak Adhim?”

Baik kedua orangtuanya, Fajar dan Alka langsung menatap Dilia terkejut.

“Siapa yang mengatakan kalau papa dan mama menerima lamaran Adhim?” tanya papanya dengan raut wajah kebingungan.

“Kak Fajar,” jawabnya.

“Aku?” Fajar langsung menunjuk dirinya sendiri, matanya membulat sempurna.

“dua hari yang lalu. Kakak bilang mama dan papa udah nerima lamaran kak Adhim.”

“Ya Allah... maaf ya dek, kakak nggak ngasih tau kamu cerita yang utuh. Jadi awalnya papa dan mama emang mau nerima lamaran Adhim, tapi tidak jadi.”

Dilia langsung menoleh pada mama dan papanya bergantian, “kenapa mama sama papa nolak lamaran Kak Adhim?”

“Karena papa dan mama tahu InsyaAllah Alka lah yang akan membuat putri papa dan mama ini bahagia dan lebih dekat pada Allah.” Ucap papanya sambil membelai pucuk kepala Dilia.

Dilia menatap papa dan mamanya berkaca-kaca.

“Jadi bagaimana Li. Kedua orangtuamu sudah menerima lamaranku, kini yang kutunggu tinggal jawaban darimu, “ ucap Alka seraya tersenyum sangat manis.

“Dilia Khairun Nisa, maukah kamu menerima pinanganku? Menjadi teman hidupku, berbagi suka dan duka, dan menjadi seseorang yang akan ku genggam tangannya dengan sangat erat untuk mencari keridohan illahi.”

Dilia diam. Tidak langsung memberi jawaban.

“Aku berharap kamu menerima lamaranku, namun bila memang kamu tak dapat melakukannya. Aku yakin itulah yang menjadi keputusan terbaikmu yang telah kamu diskusikan dengan Allah.”

Dilia menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dia menatap ke arah Alka, sebelum berucap dengan suara gemetar,

“Aku menerima lamaranmu, Al. Aku mau menjadi teman hidupmu, membagi suka dan duka, dan aku mau menjadi temanmu yang akan selalu kamu genggam tangannya untuk mencari keridohan Allah.”

Alka tersenyum sangat lebar.
Sekilas dia menundukkan kepalanya. Mengucapkan syukur pada Allah yang telah mempermudahkannya.

~Dalam diamku, aku mencintaimu. Tak ingin mengumbar bahagia jika tidak atas izin-Nya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Namun yang aku tahu aku harus membahagiakanmu. Bukan hanya di dunia namun aku pun harus membahagiakanmu hingga kita berjumpa dengan Dia yang telah menitipkan rasa cinta itu di hati kita.~

2 komentar: